MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Tiba di Beijing, Dunia Menahan Napas

Internasional

Trump Tiba di Beijing, Dunia Menahan Napas

Kunjungan pertama presiden AS ke China dalam sembilan tahun terakhir resmi dimulai. Dari perdagangan hingga logam tanah jarang dan perang di Timur Tengah, agenda pertemuan Trump-Xi tidak main-main.

PBB menyambut baik dialog antara AS dan China - ANTARA News Kalimantan Selatan

Sambil mengepalkan tinju, Trump menuruni tangga Air Force One di Beijing, Rabu (13/5/2026). Karpet merah bertepi emas sudah tergelar. Tiga ratus pemuda China berjajar, melambaikan bendera kecil kedua negara, serempak mengucapkan "selamat datang." Buat sebagian orang, pemandangan itu terasa seperti teater. Bagi pasar global, ini bukan sekadar pertunjukan.

Sembilan tahun. Selama itulah tidak ada presiden AS yang menginjakkan kaki di Beijing secara resmi. Ini juga pertama kalinya sejak Trump kembali ke Gedung Putih untuk periode kedua. Beijing menyambutnya dengan protokol yang, jujur saja, jarang diberikan ke tamu negara lain. Kuil Surga, situs Warisan Dunia UNESCO yang biasanya ramai pengunjung, ditutup total Rabu dan Kamis khusus untuk kunjungan ini. Perdana Menteri Inggris dan Spanyol yang berkunjung ke Beijing lebih awal tahun ini tidak mendapat perlakuan serupa. Xi bahkan tidak menemani mereka.

Agenda yang menanti dua pemimpin ini padat. Perdagangan AS-China jadi isu utama, termasuk perpanjangan kesepakatan logam tanah jarang yang krusial bagi industri teknologi dan pertahanan AS. Ada pula pembicaraan soal kecerdasan buatan, Taiwan, dan yang paling sensitif: perang di Timur Tengah. Beijing diperkirakan mengumumkan komitmen pembelian pesawat Boeing, produk pertanian, serta energi asal AS sebagai gestur goodwill. Trump dan Xi juga kemungkinan meresmikan pembentukan Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi bilateral.

"Seluruh dunia berharap kedua pemimpin dapat mencapai kesepakatan setidaknya pada sebagian isu dan menemukan cara mencegah ketegangan lebih lanjut pada isu yang tersisa. Hasil pertemuan bisa berdampak besar bagi perdagangan global, geopolitik, dan kelangsungan tatanan berbasis aturan," kata Eswar Prasad, profesor ekonomi di Universitas Cornell, kepada CNBC.

Tapi optimisme punya batasnya. Jonathan Czin, mantan Direktur untuk China di Dewan Keamanan Nasional dan kini peneliti di Brookings Institution, memperkirakan Beijing tidak akan menawarkan terobosan besar dalam perdagangan maupun isu lainnya. Dua hari ke depan yang akan membuktikan.

Geopolitik memperumit segalanya. Trump berulang kali menyuarakan kekhawatiran soal pembelian China atas minyak Iran dan Rusia. AS juga baru menjatuhkan sanksi pada sejumlah entitas China, termasuk Yushita Shanghai International Trade, yang diduga membantu Iran dalam pengadaan senjata. Seminggu sebelum Trump mendarat di Beijing, Menlu Iran Abbas Araghchi sudah lebih dulu bertemu Menlu China Wang Yi. Wang berjanji China akan "bekerja lebih keras" untuk meredakan konflik di Timur Tengah, sekaligus menegaskan posisi Beijing sebagai mitra strategis Teheran. Entah kebetulan atau tidak, informasi dari Pakistan menyebut AS dan Iran kini hampir mencapai kesepakatan damai.

PBB ikut bicara. Wakil juru bicara Farhan Haq menyampaikan apresiasinya atas dialog ini dan berharap Washington serta Beijing memanfaatkan momentum untuk menyelesaikan perbedaan lewat negosiasi.

Dari sisi protokol, Danny Russel, mantan diplomat senior AS, mencatat perbedaan kunjungan kali ini: jadwal dipadatkan, lebih sederhana dari kunjungan sebelumnya. Seremonialnya? Tetap megah. "Bukan rahasia lagi bagi pemerintah mana pun bahwa Trump senang dengan sanjungan dan pertunjukan. Kemegahan dan kemeriahan dirancang untuk menyanjung Trump dan menenangkannya. Itu membuatnya lebih mudah dibujuk untuk memenuhi permintaan China dan mengurangi risiko konfrontasi publik yang memalukan," kata Russel.

66.600 likes. Segitu yang diraup video Trump berjalan keluar dari Air Force One yang diunggah CCTV di Weibo, dalam waktu kurang dari dua jam. Ratusan warga Beijing sudah berdiri di pinggir jalan sejak siang, mengangkat ponsel saat iring-iringan kendaraan presiden melintas.

Dunia sedang menonton Beijing. Bagi investor, pertanyaan sesungguhnya bukan apakah ada foto jabat tangan yang bisa dipajang di headline, melainkan apakah ada angka konkret yang keluar dari balik pintu tertutup Kuil Surga.