MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Tekan Oman Pilih Kubu, Peran Mediator Muscat...

Internasional

Trump Tekan Oman Pilih Kubu, Peran Mediator Muscat di Ujung Tanduk

Pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap Oman agar memutus hubungan dengan Iran, termasuk ancaman sanksi dan serangan militer. Posisi netral Muscat yang selama puluhan tahun menjadi aset diplomatik kini berbalik menjadi beban.

Trump Murka Oman Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

Selama puluhan tahun, Oman bangga dengan satu hal yang tak dimiliki banyak negara: kemampuan duduk semeja dengan semua pihak. Kini, kehormatan itu sedang diuji habis-habisan oleh Washington.

Pemerintahan Donald Trump dilaporkan memperketat tekanan terhadap Oman agar memutus hubungan diplomatik dengan Iran, sebuah langkah yang, bagi Muscat, bukan sekadar keputusan politik biasa. Menurut sejumlah pejabat AS dan Arab yang menjadi narasumber The Wall Street Journal, Washington kini secara eksplisit memandang pendekatan Oman terhadap Teheran sebagai ancaman terhadap kepentingan Amerika di kawasan.

Tekanannya bukan sekadar retorika. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump disebut mengancam Oman dengan sanksi ekonomi sekaligus kemungkinan serangan militer. Pemicunya adalah penilaian intelijen baru yang menyimpulkan Muscat berencana bergabung dengan Iran dalam mengenakan pungutan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia. Oman membantah keras rencana tersebut.

Trump sendiri tidak menahan diri. Dalam rapat kabinet pekan lalu, ia menyebut kemungkinan memerintahkan serangan udara ke Oman jika negara itu mendukung skema pungutan Iran di Selat Hormuz. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyusul dengan ancaman sanksi lewat media sosial, sebelum sehari kemudian mengakui bahwa Duta Besar Oman untuk Washington, Talal Alrahbi, telah meyakinkannya bahwa tidak ada rencana semacam itu.

Yang membuat situasi ini pelik, Oman bukan sedang menentang AS secara terang-terangan. Muscat justru aktif membantu kapal-kapal, termasuk kapal Amerika, melewati Selat Hormuz dengan panduan navigasi, operasi pencarian dan penyelamatan, serta bantuan medis bagi awak yang membutuhkan. Ketika perang AS-Iran pecah, Oman bahkan berhasil membuka kembali koridor penerbangan kawasan Teluk lewat jalur komunikasinya dengan Teheran. Waktu itu, jasanya dianggap berharga.

Tiga bulan kemudian, sikap yang sama itu jadi masalah.

Kecurigaan Washington terhadap Muscat, menurut pejabat AS, mulai menguat sehari sebelum gelombang pertama serangan udara AS-Israel ke Iran. Saat itu, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi muncul di televisi AS dan menyatakan kesepakatan nuklir untuk mencegah konflik sudah "dalam jangkauan kita, jika kita memberi diplomasi ruang yang dibutuhkannya." Pernyataan itu dibantah keras oleh pejabat AS, yang menilai Iran belum pernah mengajukan tawaran serius membatasi program nuklirnya. Sejak saat itu, agaknya kepercayaan Trump terhadap Muscat tidak pernah pulih.

Oman juga membuat tetangganya sendiri gelisah. UEA dan Arab Saudi dilaporkan kesal karena Muscat secara konsisten menolak ikut menandatangani pernyataan bersama yang mengecam serangan-serangan Iran. Pada Mei lalu, Oman menjadi satu-satunya negara Teluk yang absen dari pernyataan PBB yang digagas UEA untuk mengecam langkah Iran mengenakan pungutan di Selat Hormuz. Bahkan ketika drone Iran menghantam pelabuhan Oman sendiri, Muscat hanya mengakui insiden itu tanpa secara eksplisit menuding Teheran. Bagi para tetangga Teluknya, itu sudah keterlaluan.

Sanam Vakil, Direktur Timur Tengah di lembaga kajian Chatham House, menilai tekanan Trump ini "menyoroti persepsi di sebagian kalangan Amerika bahwa Oman bersimpati kepada Iran." Lebih jauh, Vakil menyebut ancaman ini telah membuka pintu bagi kritik dan sorotan yang tidak diinginkan terhadap negara yang selama ini bangga dengan kebijakan luar negerinya yang tidak memihak siapapun.

Para pejabat Oman, menurut sumber Arab yang mengetahui situasi ini, terkejut dengan eskalasi sikap permusuhan dari Washington. Muscat kini mempertimbangkan sejumlah langkah, termasuk meluncurkan kampanye hubungan masyarakat untuk memperlihatkan kontribusinya terhadap kelancaran lalu lintas maritim di Selat Hormuz, serta bekerja sama dengan PBB membujuk Iran agar mengizinkan kapal pembawa bahan baku pupuk melintas demi negara-negara Afrika yang menghadapi krisis pangan.

Menteri Informasi Oman Abdulla Al-Harrasi memilih kata-katanya dengan cermat. Ia menegaskan negaranya siap bekerja sama dengan AS dan semua mitra yang bertanggung jawab untuk mempromosikan stabilitas kawasan, sekaligus memperingatkan bahwa "setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi di perairan ini akan merugikan kepentingan seluruh komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat."

Taruhan sesungguhnya jauh lebih besar dari sekadar hubungan bilateral. Oman pernah menjadi tuan rumah perundingan yang mengakhiri Perang Iran-Irak di era 1980-an, memfasilitasi komunikasi rahasia antara Iran dan pemerintahan Obama yang berujung kesepakatan nuklir 2015, dan memediasi dua putaran perundingan nuklir sebelum serangan militer AS-Israel menghentikan prosesnya. Selama ini, Muscat adalah satu-satunya jembatan yang bisa diterima Washington maupun Teheran secara bersamaan. Kalau Oman dipaksa memilih kubu, peran itu tamat. Dan saat eskalasi di kawasan suatu hari membutuhkan saluran rahasia untuk de-eskalasi, dunia mungkin baru sadar betapa mahalnya harga dari ultimatum yang diobral pekan lalu.