SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Tahan Aset Militer AS di Iran, Ancam Seranga...

Internasional

Trump Tahan Aset Militer AS di Iran, Ancam Serangan Lebih Besar jika Gencatan Jebol

Trump menegaskan kapal, pesawat, dan personel militer AS tetap bersiaga di sekitar Iran meski gencatan senjata telah diumumkan, sambil mengancam serangan "lebih besar dari yang pernah dilihat" jika kesepakatan dilanggar.

Gencatan senjata sudah diumumkan. Tapi Trump tidak menarik satu pun asetnya.

Lewat Truth Social pada Kamis (9/4), Trump menegaskan semua kapal, pesawat, personel militer, amunisi, dan persenjataan AS akan tetap bersiaga di dan sekitar Iran sampai kesepakatan yang telah dicapai dipatuhi sepenuhnya. Bukan sinyal diplomatik biasa. Pesan itu dikirim tepat dua hari setelah AS dan Iran sama-sama mengumumkan gencatan pada Selasa (7/4), usai lebih dari sebulan saling hajar.

"Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka 'Penembakan Dimulai,' lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya," tulis Trump.

Ancaman yang sulit diabaikan.

Wortel dan tongkat dikirim bersamaan. AS dilaporkan siap memberikan keringanan sanksi dan tarif kepada Teheran sebagai bagian dari paket insentif jika Iran patuh. Negosiasi lanjutan dijadwalkan di Islamabad, Pakistan pada 10 April, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.

Dua syarat utama Trump di atas kertas cukup jelas: tidak ada senjata nuklir Iran, dan Selat Hormuz harus tetap terbuka serta aman. Menteri Pertahanan AS pun menegaskan soal nuklir tidak ada ruang negosiasi. Titik.

Masalahnya, kenyataan di lapangan sudah lebih dulu mendahului meja perundingan.

Belum 24 jam setelah gencatan diumumkan, Israel menghajar Lebanon. 254 orang tewas, lebih dari seribu luka-luka. Iran langsung meradang dan menuding AS melanggar tiga poin gencatan: serangan ke Lebanon, drone yang menerobos wilayah udara Iran, serta penyangkalan Washington atas hak pengayaan uranium Teheran. Setelah itu, Selat Hormuz ditutup kembali sebagai gertakan balasan.

Pasar energi global, kalau boleh jujur, langsung berdiri bulu kuduknya. Selat itu urat nadi ekspor minyak Timur Tengah, bagi Indonesia pun, kapal-kapal niaga di kawasan itu ikut was-was. Pertanyaannya: berapa lama Teheran sanggup menahan posisi ini sebelum tekanan ekonomi memaksanya mundur?

Netanyahu mengaku mendukung keputusan Trump soal gencatan, tapi sekaligus membantah Lebanon masuk dalam cakupan kesepakatan. Pernyataan yang, agaknya, sengaja membuka celah lebar bagi Israel untuk terus bergerak tanpa merasa terikat. Pakistan selaku mediator menyebut gencatan mencakup sekutu AS dan Iran termasuk Lebanon, tapi tidak menyebut Israel secara rinci. Celah itulah yang langsung dimanfaatkan.

Gencatan yang retak sebelum benar-benar berdiri. Kini bukan soal apakah perundingan di Islamabad bakal mulus, tapi seberapa jauh Iran masih percaya AS sanggup mengendalikan sekutunya sendiri.