SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Serang NATO Lagi, Jerman Balik Unjuk Gigi

Internasional

Trump Serang NATO Lagi, Jerman Balik Unjuk Gigi

Menjelang KTT NATO di Ankara, Trump kembali mengkritik kontribusi sekutu Eropa dan menyebut hubungan AS-NATO "konyol". Kanselir Jerman Friedrich Merz tak tinggal diam.

Merz: Jerman naikkan anggaran militer dan tak gentar siapa pun

Jelang KTT NATO di Ankara pada 7-8 Juli, Donald Trump kembali melempar granat ke arah sekutu-sekutunya. Kali ini lewat Truth Social, ia menyebut hubungan Amerika Serikat dengan aliansi itu "konyol" karena negara-negara anggota dinilai tidak memberikan kontribusi yang sepadan. "Mereka tidak ada di sana untuk kita," tulis Trump.

Ia menyertakan grafik yang memperlihatkan betapa jauhnya selisih pengeluaran pertahanan AS dibanding negara-negara Eropa, dengan Jerman menjadi sasaran khusus. Rekam jejak pengeluaran militer Berlin selama 2014-2025 dijadikan bukti ketimpangan yang sudah berlangsung terlalu lama. Bukan kali pertama nada seperti ini keluar dari Gedung Putih, tapi timing-nya kali ini terasa lebih menohok, tepat di ambang pertemuan para pemimpin aliansi.

Jerman tidak tinggal diam. Kanselir Friedrich Merz merespons dengan nada yang jarang terdengar dari Berlin: tegas, nyaris tanpa basa-basi diplomatik. "Jerman melipatgandakan anggaran pertahanannya dalam kurun waktu empat tahun. Ini adalah upaya terbesar yang pernah kami lakukan untuk memperkuat kemampuan pertahanan kami. Dalam hal ini, kami tidak perlu merasa gentar terhadap siapa pun," ujar Merz kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa Jerman menyampaikan ini "dengan segala kerendahan hati, selaku negara anggota terbesar Uni Eropa yang memikul tanggung jawab di kawasan Eropa."

Merz bahkan melampaui target. KTT NATO di Den Haag tahun lalu menetapkan patokan 3,5% dari PDB untuk belanja pertahanan inti, dengan tenggat 2035. Berlin mengklaim akan mencapainya pada awal 2029, enam tahun lebih awal dari jadwal. Kalau benar terealisasi, angka itu akan mengubah wajah pertahanan benua biru secara drastis.

Retakan lebih lebar dari itu. Ketegangan AS-Eropa bukan semata soal anggaran militer: ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland dari Denmark, anggota NATO, ditambah keputusan melancarkan operasi militer terhadap Iran tanpa konsultasi dengan sekutu Eropa, membuat jurang itu makin susah ditutup. Merz sendiri pernah menyatakan AS mengalami "penghinaan" dalam konfrontasinya dengan Iran. Kalimat yang, agaknya, tidak mudah dilupakan Washington.

Pemerintahan Trump pun disebut sedang mengevaluasi kehadiran militer AS di Eropa, dengan opsi penarikan sebagian pasukan yang masuk dalam pertimbangan. Bagi negara-negara Baltik yang berbatasan langsung dengan Rusia dan rutin menerima kunjungan diplomatik Merz, sinyal semacam itu bukan sekadar retorika. Bukan main.

KTT Ankara pekan ini akan membahas penguatan pertahanan kolektif dan pembagian beban anggaran di tengah tekanan geopolitik yang kian kompleks. Pertanyaannya bukan lagi apakah Eropa akan menaikkan anggaran militer, itu sudah terjawab. Pertanyaan yang lebih menarik: seberapa jauh Trump siap mendorong ketegangan ini sebelum aliansi yang sudah 75 tahun berdiri itu benar-benar retak dari dalam.