JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Salah Sebut Iran 'Republik Islam Jepang' saa...

Internasional

Trump Salah Sebut Iran 'Republik Islam Jepang' saat AS Gempur 90 Target Militer

Di sela KTT NATO di Ankara, Trump keliru menyebut Iran sebagai 'Republik Islam Jepang' sekaligus menyapa Zelensky sebagai Putin. Sementara itu, ketegangan AS-Iran kian mendidih setelah Washington gempur 90 target militer Teheran dan sirene perang meraung di Kuwait dan Bahrain.

Trump Keliru Sebut Iran Republik Islam Jepang

Konferensi pers bersama Donald Trump dan Volodymyr Zelensky di Ankara, Rabu (8/7), berlangsung di sela-sela KTT NATO. Yang seharusnya jadi momen diplomatik solid itu malah berujung serangkaian blunder verbal yang viral dalam hitungan jam.

Trump, ketika membahas serangan rudal ke kapal induk AS, menyebut Iran sebagai "Republik Islam Jepang." Kutipan lengkapnya, seperti dilaporkan SCMP: "Kami ditembaki 111 rudal oleh Republik Islam Jepang." Kekeliruan ini mencolok karena dua alasan yang bertabrakan: "Republik Islam" adalah sebutan resmi Iran, sementara Jepang justru sekutu lama Washington yang menjaga hubungan baik dengan Teheran.

Belum selesai. Dalam sesi yang sama, Trump juga menyapa Zelensky, yang duduk tepat di sebelahnya, sebagai "Presiden Putin." Vladimir Putin, musuh bebuyutan Ukraina yang sudah empat tahun lebih mengobarkan perang di negeri Zelensky.

Blunder verbal itu agaknya cuma jadi catatan kaki dari eskalasi militer yang jauh lebih serius. CENTCOM mengumumkan bahwa pasukan AS telah menyelesaikan serangan terhadap sedikitnya 90 target militer Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat, eh, koreksi: malam waktu Iran, operasi hari kedua sejak kedua negara kembali terlibat pertempuran terbuka. Washington menyebut operasi ini dirancang untuk melemahkan kapasitas Iran dalam mengancam kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, jalur yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global.

Angkatan Laut AS mengerahkan 19 kapal di perairan sekitar Iran. Formasi yang tidak main-main: dua kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS George H.W. Bush, satu kapal serbu amfibi dengan lebih dari 1.000 marinir di dalamnya, 14 kapal perusak, satu kapal penjelajah, dan satu kapal pangkalan ekspedisi.

Teheran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal dan drone, menyasar "infrastruktur dan fasilitas utama" di pangkalan Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain. Sirene peringatan serangan udara meraung-raung di kedua negara Teluk itu pada Kamis (9/7) pagi. Teheran juga mengancam akan memperluas sasaran ke pangkalan lain di kawasan jika AS tidak menghentikan serangannya.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, menantang secara terbuka. Ia menegaskan bahwa jika pasukan AS berani melancarkan serangan darat, wilayah pesisir Iran akan menjadi "neraka" bagi mereka. Setidaknya itu klaimnya. Nada provokasi sekeras ini tidak biasa datang dari pejabat setingkat kepala staf, dan patut dicermati apakah ini gertakan atau sinyal operasional nyata.

Trump sudah memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan "jauh lebih buruk" jika Iran terus mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz. Ia juga mengumumkan pencabutan gencatan senjata yang sebelumnya sempat berlaku antara kedua negara.

Satu detail dari pertemuan Ankara yang nyaris tenggelam di balik kekacauan verbal: Trump mengumumkan AS akan memberikan lisensi produksi sistem pertahanan udara Patriot kepada Ukraina, termasuk cara membuatnya. "Kami akan memberi mereka hak untuk membuat Patriot. Kami akan menunjukkan kepada mereka cara membuatnya," kata Trump. Zelensky, yang selama bertahun-tahun memohon tambahan Patriot dan belakangan juga meminta lisensi produksi agar Ukraina tak sepenuhnya bergantung pasokan dari luar, mendapat angin segar dari konferensi pers yang sama. Entah kebetulan atau tidak, momentum itu datang persis ketika perhatian dunia terpecah ke dua front sekaligus.