Sepanjang masa jabatan pertamanya, Trump sudah berulang kali menggerutu soal sistem peluncur jet canggih di kapal induk terbarunya. Kini, di jabatan kedua, gerutuan itu berubah jadi perintah resmi.
Presiden Donald Trump menandatangani memorandum keamanan nasional yang mewajibkan US Navy meninggalkan Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS) dan kembali ke sistem katapult uap konvensional. Sasaran utama kebijakan ini adalah USS Doris Miller (CVN-81), kapal induk keempat dari kelas Gerald R. Ford, beserta seluruh kapal induk penerusnya. Tiga kapal sebelumnya, USS Gerald R. Ford (CVN-78), USS John F. Kennedy (CVN-79), dan USS Enterprise (CVN-80), tidak terdampak karena EMALS sudah terlanjur tertanam di struktur mereka.
Memo yang diterbitkan Kamis (13/8/2026) itu memberi Pentagon dan US Navy tenggat dua bulan untuk menyerahkan rancangan rencana peralihan. Bukan cuma peluncur jet, lift senjata elektromagnetik pada kapal induk kelas Ford juga diperintahkan diganti. Ada ironi yang sulit diabaikan: dokumen yang sama mengkritik kebiasaan Angkatan Laut yang terus mengubah desain di tengah konstruksi sebagai biang kerok pembengkakan biaya dan penundaan proyek, sementara kebijakan ini sendiri melakukan persis hal itu.
General Atomics, produsen EMALS, langsung angkat suara. Perusahaan itu mengingatkan bahwa pengerjaan sistem peluncur dan roda penghenti pada USS Doris Miller sudah rampung separuh jalan. "Mengubah arah saat ini akan menimbulkan risiko biaya, jadwal, dan integrasi yang signifikan," tegas pihak perusahaan. Bukan sekadar peringatan formalitas, ini kalkulasi nyata dari pihak yang paling tahu kondisi lapangan.
Dari sisi teknis, argumentasi Trump soal keunggulan uap agaknya sulit dipertahankan di hadapan para insinyur. EMALS dirancang agar tidak membutuhkan jaringan pipa tekanan tinggi, katup, dan boiler uap yang rumit dan rakus personel. Di USS Gerald R. Ford, jumlah awak yang dibutuhkan untuk mengoperasikan katapult turun dari sekitar 12 orang menjadi hanya dua sejak awal tahun ini. Sebaliknya, katapult uap butuh lebih banyak kepala, sentakan mekanisnya mempercepat keretakan rangka pesawat tempur, dan tekanan uap yang disedot langsung dari reaktor nuklir perlu waktu isi ulang, sehingga laju sortie dalam skenario perang intensitas tinggi pun melambat.
Ada satu keunggulan EMALS lagi yang tidak bisa begitu saja dikesampingkan: kontrol dorongan yang halus. Teknologi ini memungkinkan peluncuran drone tempur ringan, yang kian menjadi tulang punggung doktrin perang laut masa depan. Katapult uap, dengan sentakannya yang keras dan tidak teratur, tidak bisa melakukan itu. Titik.
Lalu bagaimana postur pesaing? China melangkah ke arah yang berlawanan. Kapal induk Fujian (Type 003) milik PLAN sudah menggunakan katapult elektromagnetik sejak awal, tanpa pernah melewati fase uap. Prancis pun berencana menerapkan sistem serupa pada kapal induk barunya. Kalau kebijakan ini berjalan mulus, bisa jadi China akan menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan kapal induk berkatapult elektromagnetik secara penuh pada armada aktifnya, sementara AS mundur ke teknologi yang mulai ditinggalkan rivalnya.
Momentum kebijakan ini pun sulit dibilang bagus. US Navy sedang dihajar krisis rekrutmen prajurit, sementara perdebatan anggaran militer di Kongres sedang panas-panasnya. Bulan lalu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkirakan biaya perang telah membengkak ke angka 37,5 miliar dolar AS, sekitar Rp607 triliun. Kubu Republik sendiri tengah menyiapkan paket anggaran militer 95 miliar dolar AS untuk menutup kebutuhan prioritas Gedung Putih.
Bagi pelaku pasar pertahanan, ini sinyal yang patut dicermati. General Atomics bukan perusahaan publik, tapi rantai pasok EMALS melibatkan sejumlah kontraktor pertahanan yang sahamnya diperdagangkan. Pembatalan atau pengurangan kontrak skala ini, entah kebetulan atau tidak, selalu meninggalkan jejak di neraca para pemain industri.