Donald Trump membuka celah diplomasi yang tidak biasa: ia rela bertemu Ayatollah Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru, kalau memang ada deal di ujung negosiasi. "Saya tidak ingin bertemu, tetapi jika saya bertemu, saya akan merasa terhormat untuk bertemu dengannya," kata Trump kepada wartawan Kamis (4/6) waktu Washington. Pernyataan yang terdengar kontradiktif itu langsung memantik reaksi dari Tehran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memotong ekspektasi dengan satu kalimat. Dalam wawancara dengan saluran televisi Lebanon Al Mayadeen, ia menyebut gagasan pertemuan itu tidak realistis. "Saya pikir kita harus realistis dan berpikir serta hidup di dunia nyata," tegasnya. Diplomatik di permukaan, tapi nadanya jelas: jangan terlalu jauh berimajinasi.
Konteks di balik pernyataan Trump memang berat. Mojtaba Khamenei, ulama berusia 54 tahun, naik ke posisi pemimpin tertinggi setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas pada 28 Februari dalam serangan yang melibatkan AS dan Israel. Trump sendiri mengakui beban sejarah itu dengan cara yang agaknya hanya bisa diucapkan oleh Trump. "Kami membunuh ayahnya, istrinya, dan putranya, jadi mungkin saya bukan orang favoritnya," ujarnya, sembari menambahkan bahwa Mojtaba punya reputasi baik di sebagian kalangan dan diharapkan bisa bersikap "profesional".
Araghchi punya latar sendiri soal Mojtaba. Ia mengaku berada di dalam gedung kantor pemimpin tertinggi saat serangan yang menewaskan Ali Khamenei terjadi, tapi selamat karena berada di sayap lain. Soal absennya Mojtaba dari panggung publik sejak dilantik, Araghchi menepis spekulasi. Bukan karena lemah atau kendali negara goyah. Semata pertimbangan keamanan. "Pemimpin tertinggi yang baru memiliki kehadiran yang sangat dekat dan efektif dalam urusan negara dan memiliki kendali penuh," kata Araghchi.
Gencatan senjata rapuh sejak 8 April memberi sedikit ruang bernapas bagi negosiasi. Tapi tanda-tanda kesepakatan besar? Belum kelihatan. Trump tampak memainkan kartu optimisme. "Saya ingin melihat apakah kita mencapai kesepakatan, tetapi jika kita mencapai kesepakatan, ada kemungkinan saya akan bertemu dengannya," katanya. Bagi pelaku pasar yang mengikuti dinamika ini, pertemuan semacam itu, kalau benar terjadi, akan jadi sinyal deeskalasi paling kuat dalam setahun terakhir, bak gayung bersambut bagi aset berisiko dan minyak yang sudah lama menunggu kabar baik. Tapi selama Tehran masih menjawab dengan "hidup di dunia nyata", skenario itu masih jauh panggang dari api.