KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Mau Jadi Bintang Tamu HUT ke-250 AS Setelah...

Internasional

Trump Mau Jadi Bintang Tamu HUT ke-250 AS Setelah Musisi Berbondong Mundur

Perayaan ulang tahun ke-250 Amerika Serikat carut-marut setelah mayoritas pengisi acara konser mundur. Trump kini ingin gantikan mereka dengan reli politik di National Mall.

Banyak Musisi Mundur, Trump Ingin Jadi Bintang Tamu HUT ke-250 AS

Perayaan ulang tahun ke-250 Amerika Serikat yang sedianya menjadi momen bersejarah kini lebih mirip drama panggung yang kehilangan pemainnya satu per satu. Dan Trump, tentu saja, sudah siap mengisi kekosongan itu.

Sejak penyelenggara Freedom 250 merilis daftar pengisi acara konser di Washington untuk rangkaian perayaan 4 Juli, para musisi justru berlomba-lomba menarik diri. Martina McBride, penyanyi country, dan Bret Michaels, vokalis band glam rock Poison yang berjaya di era 1980-an, hanyalah dua dari sembilan artis yang awalnya diumumkan. Rapper Young MC juga ikut hengkang. Dari sembilan nama, sudah lebih dari separuh yang angkat kaki.

Alasannya seragam: merasa disesatkan soal sifat acara. McBride mengaku dijanjikan ini adalah perayaan nonpartisan untuk merayakan semua 50 negara bagian, tapi kenyataan yang dia temukan berbeda. "Was assured this was a nonpartisan event that was meant to celebrate ALL 50 states. Yesterday things started changing and what we were told is, in fact, not what is happening," tulisnya. Young MC lebih blak-blakan: "The artists were never told about any political involvement with the event." Michaels menyuarakannya dari sudut lain. "Sayangnya, apa yang disajikan kepada kita sebagai perayaan negara kita telah berubah menjadi sesuatu yang lebih memecah belah," tulisnya di media sosial. Kekhawatiran soal keselamatan dirinya, band, kru, dan keluarga turut dia sebut.

Dua kelompok penyelenggara yang berebut kendali atas satu perayaan besar, itulah akar masalahnya. America250 dibentuk lewat undang-undang Kongres tahun 2016, nonpartisan, dipimpin lintas partai termasuk Senator Lisa Murkowski dan Alex Padilla. Freedom 250, sebaliknya, lahir dari perintah eksekutif Trump di awal masa jabatan keduanya, mandat tegasnya: memberi Amerika "pesta ulang tahun paling spektakuler yang pernah disaksikan dunia." Paket legislatif Partai Republik tahun lalu mengalirkan dana 150 juta dolar AS lewat Departemen Dalam Negeri untuk perayaan ini, tanpa menyebut salah satu nama kelompok secara spesifik. Kelompok pemantau etika Citizens for Responsibility and Ethics in Washington sudah mengibarkan bendera merah soal potensi konflik kepentingan dari donatur korporat Freedom 250 yang punya urusan bisnis dengan pemerintahan Trump.

Juru bicara Freedom 250 Rachel Reisner bergegas menegaskan organisasinya nonpartisan dan fokus tunggal merayakan tonggak bersejarah ini. Klaim yang, agaknya, belum cukup meyakinkan para artis yang sudah terlanjur mundur.

Trump merespons dengan caranya yang khas. Di Truth Social pada Sabtu (30/5/2026), dia menyerukan pembatalan konser-konser itu dan menggantinya dengan reli politik. "Kita seharusnya mengadakan rapat umum besar-besaran 'kebangkitan Amerika', untuk 250 orang, daripada mendatangkan penyanyi-penyanyi mahal yang tidak ingin didengar siapa pun, yang musiknya membosankan, dan yang tidak melakukan apa pun selain mengeluh," tulisnya. "Batalkan saja," tegasnya.

Sehari sebelumnya, setelah artis keempat dan kelima mundur, Trump sudah lebih dulu melempar wacana menjadi pengganti. Dia menyebut dirinya "daya tarik nomor satu di dunia", pria yang mendapat penonton lebih besar dari Elvis di masa jayanya, dan yang oleh sebagian orang disebut sebagai Presiden Terhebat dalam Sejarah. Dia mengaku memerintahkan para ajudannya menilai kelayakan menggelar reli "America is Back" di National Mall, di mana dia akan berpidato membangkitkan semangat bangsa.

Konser-konser itu dijadwalkan mulai 25 Juni sebagai bagian dari acara besar di National Mall. Sisa lineup? Vanilla Ice dan C+C Music Factory. Nama-nama yang masa kejayaannya datang dan pergi beberapa dekade lalu. Banjir komentar sarkastik di media sosial pun tak terbendung.

Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa yang tampil. Apakah perayaan kemerdekaan Amerika ke-250 akan dikenang sebagai momen pemersatu bangsa, atau justru sebagai panggung kampanye yang gagal mendapat bintang tamunya?