Ribuan pelayat Iran mengangkat spanduk "Kami Akan Membunuh Trump" di pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang. Kalimat itu kini menjadi bahan bakar eskalasi paling berbahaya dalam konflik AS-Iran yang telah memasuki bulan kelima.
Lewat platform Truth Social, Trump mengunggah pernyataan yang langsung mengguncang pasar. "1.000 rudal telah dikunci, siap diluncurkan, dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lainnya siap menyusul jika pemerintah Iran menjalankan ancamannya untuk membunuh atau mencoba membunuh Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini saya!" tulisnya. Bukan gertakan kosong, setidaknya itu klaimnya.
Ancaman itu punya konteks. Media AS, termasuk The Wall Street Journal, melaporkan bahwa Israel telah membagikan intelijen kepada Washington yang menyebut Iran menyusun rencana pembunuhan terhadap Trump. Belum ada konfirmasi resmi Teheran atas laporan tersebut.
Dalam unggahan yang sama, Trump menegaskan perintah telah diberikan kepada militer AS untuk bersiap, selama satu tahun dan dapat diperpanjang, guna "menghancurkan seluruh wilayah Iran" apabila ada upaya pembunuhan terhadapnya. Bagi sebagian pengamat itu terasa seperti deterrence. Bagi sebagian lain, pintu perang terbuka lebar.
Namun di baris lain unggahannya, Trump juga menyatakan AS menyetujui permintaan Iran untuk kembali berunding, sambil menebalkan huruf kapital di kata "BERAKHIR" untuk mendeklarasikan gencatan senjata bulan lalu sudah usai. Diplomasi dan ancaman berjalan berdampingan, ibarat pedang bermata dua yang entah bagaimana harus dipegang kedua pihak sekaligus.
Teheran menolak framing itu mentah-mentah. Iran menegaskan tidak pernah meminta perundingan langsung dengan AS, melainkan hanya menerima kehadiran mediator Qatar. Bukan perbedaan kecil: itu soal narasi siapa yang "meminta" dan siapa yang "menerima". Para negosiator Qatar dilaporkan bertemu pejabat Iran pada Jumat untuk membahas situasi di Selat Hormuz, jalur air yang sebelum perang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Hormuz kini jadi pusat tarik-ulur. Sejak konflik pecah 28 Februari, Iran secara praktis menguasai kawasan itu, menciptakan kebuntuan dalam konfrontasinya dengan militer terkuat di dunia. Washington menuntut Teheran menyatakan secara terbuka akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut dan menjamin jalur pelayaran terbuka tanpa pungutan apa pun. Sabtu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi terbang ke Oman khusus untuk membahas pengaturan keamanan pelayaran. Sinyal kecil. Tapi ada.
Minggu ini tidak berlalu tanpa darah. Tiga kapal tanker komersial milik Qatar dan Arab Saudi diserang, memicu serangan balasan AS ke sejumlah lokasi di Iran pada Rabu dan Kamis. Sedikitnya 17 orang tewas, 115 lainnya terluka, menurut data Kementerian Kesehatan Iran. Teheran membalas dengan menyasar fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk. Jumat berlalu relatif sepi, tanpa laporan serangan baru, sementara mediator regional bekerja keras menyelamatkan jalur diplomasi.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan investor: harga minyak. Setelah beberapa pekan tertekan, minyak mentah mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam delapan pekan terakhir. Bagi Trump, ini masalah politik yang terasa langsung di pompa bensin, dan pemilu Kongres November semakin dekat. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, pasar agaknya sudah mulai memperhitungkan skenario terburuk.
Konflik yang kini memasuki bulan kelima ini sudah menelan ribuan korban jiwa, mengganggu rantai pasokan energi global, dan memperburuk tekanan pada konsumen AS. Pertanyaannya bukan apakah 1.000 rudal itu akan diluncurkan. Tapi berapa banyak waktu yang tersisa sebelum satu kesalahan kalkulasi membuat pertanyaan itu tidak relevan lagi.