MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Kukuh Berpidato di Tengah Badai: Komunisme P...

Internasional

Trump Kukuh Berpidato di Tengah Badai: Komunisme Pecundang, AS Tak Tergoyahkan

Di tengah badai petir yang memaksa evakuasi ribuan warga dari National Mall, Donald Trump bersikeras naik podium demi memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat — dan memanfaatkan momen itu untuk menyerang komunisme.

Trump Pidato Hari Kemerdekaan AS: Komunisme Itu Pecundang

Badai petir itu datang bukan sebagai pertanda buruk bagi Trump, melainkan bahan pidato tambahan yang gratis. Ribuan warga yang berkumpul di National Mall, Washington DC, sempat dievakuasi sementara pada Sabtu (4/7/2026) ketika hujan deras dan angin kencang menghantam ibu kota AS tepat di momen perayaan Salute to America 250, seremoni besar yang menandai hari jadi ke-250 berdirinya Amerika Serikat.

Trump tidak bergeming. Lewat unggahan di Truth Social, ia menegaskan pidato tetap akan disampaikan, meski jadwal malam itu terpaksa digeser. "Kami akan menunggu. Saya tidak peduli apakah harus dimulai pukul 02.00 dini hari atau satu jam lagi. Sepertinya akan berlalu, selalu begitu," tulisnya. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak akan membiarkan hujan mengganggu perayaan 250 tahun negeri itu. Penyelenggara memperkirakan badai akan segera berlalu dan pidato baru bisa dimulai sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Soal keberuntungan? Trump malah berkelakar bahwa badai justru membuat acara jadi sedikit lebih menarik.

Sebelum langit Washington berubah kelam, perayaan siang hingga sore berlangsung meriah. Pesawat-pesawat militer bergemuruh rendah di atas National Mall, sementara tim penerjun payung Angkatan Darat dan Angkatan Laut melompat sambil membawa bendera raksasa AS. Suhu hari itu sempat menembus 37,8 derajat Celsius, menjadikannya salah satu perayaan Hari Kemerdekaan terpanas dalam sejarah kota itu. Panas yang tidak main-main.

Ketika akhirnya Trump naik podium, sasaran utamanya sudah jelas: komunisme. Dengan nada yang tidak menyisakan ruang tafsir lain, ia menyebut komunisme sebagai "pecundang" dan menegaskan Amerika tidak akan pernah jatuh ke sistem itu. "Amerika tidak akan pernah menjadi negara komunis. Tidak akan terjadi. Komunisme adalah pecundang dan akan selalu begitu," tegasnya. "Sistem komunis adalah kebalikan dari sistem Amerika dan sistem komunis tidak pernah berhasil," sambungnya. Ia bahkan memakai metafora medis yang cukup tajam: komunisme seperti kanker yang harus dipotong cepat sebelum menyebar.

Langkah retoris itu agaknya bukan tanpa konteks politik domestik. Tak lama sebelum acara ini, Trump sempat menyebut Zohran Mamdani, wali kota terpilih New York, sebagai seorang komunis. Framing semacam ini, jujur saja, adalah pola Trump yang sudah sangat familiar: menghidupkan ancaman ideologi lama sebagai amunisi politik masa kini.

Trump juga menyinggung warisan para pejuang AS. Menurutnya, mereka telah berkorban di medan perang di seluruh dunia justru untuk memastikan komunisme tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Amerika. "Pejuang kita tidak melawan komunisme di medan perang di seluruh dunia hanya untuk membiarkan ancaman itu muncul kembali di sini, di Amerika," ujarnya.

Perayaan 250 tahun kemerdekaan ini memang dirancang sebagai panggung besar bagi Trump, lengkap dengan kembang api spektakuler yang akhirnya tetap digelar setelah badai mereda. Bagi investor dan pengamat yang mencermati dinamika geopolitik AS, pidato semacam ini biasanya menjadi cermin arah kebijakan luar negeri jangka menengah. Malam itu, sinyalnya keras. Dan jelas.