Konflik AS-Iran yang kini mendekati hari ke-100 memasuki babak baru yang membingungkan: Trump mengklaim kesepakatan soal senjata nuklir sudah di tangan, sementara Teheran menolak seluruh narasi itu bahkan sebelum tinta kering.
Dalam wawancara dengan podcast Pod Force One milik New York Post yang dipublikasikan Rabu (3/6/2026), Trump mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir sebagai bagian dari pembicaraan yang tengah berlangsung. "Mereka sudah setuju bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir," tegasnya. Ketika didesak apakah Iran benar-benar menerima syarat itu, jawabannya singkat: "Oh ya, mereka sudah menyetujuinya." Ia sempat menambahkan catatan kecil, Iran bisa saja berubah pikiran sewaktu-waktu, tapi bagi Trump, persetujuan itu sudah cukup dipegang.
Teheran merespons dengan nada yang lebih dingin dari sekadar penolakan. Kementerian Luar Negeri Iran enggan berkomentar resmi, tapi seorang pejabat pemerintah yang tak mau disebut namanya menyebut pernyataan Trump menyesatkan. "Iran adalah anggota lama NPT, dan program nuklirnya selalu sepenuhnya bersifat damai. Iran tidak pernah berupaya memiliki senjata nuklir, dan oleh karena itu tidak ada hal baru mengenai Iran yang 'setuju untuk tidak memilikinya'," kata pejabat itu. Intinya: framing Trump secara keliru menyiratkan Teheran sebelumnya memang mengejar bom.
Dua narasi. Hampir nol titik temu.
Lapangan bicara lain. Pekan ini menjadi salah satu periode paling intens sejak gencatan senjata berlaku awal April, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan AS di kawasan serta bandara internasional Kuwait, menewaskan satu orang. Perselisihan soal kendali Selat Hormuz terus membayangi: Iran membatasi arus perdagangan di jalur vital itu, AS membalas dengan blokade ketat terhadap pelabuhan Iran. Pasar energi global ikut tertekan.
Rubio bergeming. Dalam sidang di DPR AS hari yang sama, Menteri Luar Negeri itu menyebut serangkaian serangan bukan eskalasi perang melainkan respons defensif murni. "Jika mereka tidak menembaki kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak," ujarnya. Tapi ia juga mengakui ada yang bergeser di meja negosiasi: Iran mulai mau membahas aspek program nuklir yang beberapa bulan lalu bahkan tak sudi mereka sebut. Bagi Rubio, itu sinyal. Kalau memang sinyal, pertanyaannya: sinyal ke mana?
Trump sendiri tidak terlihat panik. Kepada wartawan di Ruang Oval, ia menggambarkan situasi masih terkendali dan sempat berkelakar soal definisi gencatan senjata. "Di bagian dunia itu, gencatan senjata adalah ketika Anda menembak dalam cara yang lebih terkendali," katanya. Ia juga menyinggung bahwa blokade AS terhadap Iran kemungkinan kecil bertahan hingga Hari Buruh Amerika, isyarat bahwa tekanan ekonomi pun ada tenggat.
Di balik pernyataan itu, staf Trump disebut sudah tahu garis merah sesungguhnya: presiden belum ingin kembali ke perang besar-besaran, kecuali pasukan Amerika terbunuh. Batas yang terdengar tegas. Tapi juga rapuh, mengingat intensitas bentrokan yang terus menanjak.
Para analis tidak melihat Washington dalam posisi nyaman. Steven Cook dari Council on Foreign Relations menilai Iran justru memperlihatkan ketangguhan yang bikin Trump sulit bermanuver. "Orang-orang Iran menunjukkan bahwa mereka bersedia menanggung penderitaan dan karena itu belum menyerah. Hal itu membuat presiden berada dalam situasi yang buruk," kata Cook. Suzanne Maloney dari Brookings Institution lebih blak-blakan: konflik Iran sudah terlanjur menjadi kekacauan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, buah dari kecenderungan administrasi ini terhadap pertaruhan militer besar. Dua analis, satu kesimpulan.
Negosiasi tersangkut pada titik klasik yang susah diurai. Trump menolak proposal terbaru Iran karena menuntut konsesi serius sejak awal, bukan bertahap. Teheran, sebaliknya, bersedia bicara nuklir hanya setelah AS mencairkan aset Iran atau menyodorkan insentif finansial lebih dulu. Bagi kedua pihak, mundur selangkah terasa seperti menyerah.
Selat Hormuz tetap variabel paling sensitif. Media pemerintah Iran sempat melaporkan Teheran siap menutup penuh jalur itu sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata. Trump meremehkan: "Saya pikir ini akan terselesaikan dengan cukup cepat." Klaim yang kini perlu dibuktikan oleh waktu, dan waktu, di konflik ini, tidak pernah berpihak pada siapapun.