Pertemuan di Doha, Qatar, yang dijadwalkan Selasa (30/6) waktu setempat itu menjadi titik panas baru dalam saga panjang negosiasi nuklir AS-Iran. Trump berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin malam (29/6), melontarkan klaim yang langsung memicu kontroversi: Iran, katanya, sudah menyetujui denuklirisasi.
"Ini soal denuklirisasi Iran. Kita tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Mereka sudah menyetujui hal tersebut," tegas Trump kepada wartawan di sela-sela penandatanganan perintah eksekutif terbarunya. Pernyataan keras. Dan langsung dibantah Teheran.
Pihak Iran menegaskan tidak ada rencana pertemuan atau negosiasi resmi dengan Washington di Qatar dalam waktu dekat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pada hari yang sama, merilis pernyataan yang agaknya dirancang untuk meredam tensi tanpa menyerah sepenuhnya. Pezeshkian mengingatkan bahwa mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sudah pernah menyatakan dengan gamblang bahwa Iran tidak berniat membuat senjata nuklir, dan posisi itu tidak berubah.
Pezeshkian juga menyinggung nota kesepahaman (MoU) dengan AS, yang diklaim Gedung Putih sebagai dokumen rekayasa. "Saling pengertian adalah jalan dua arah. Jika pihak Amerika mematuhi kesepakatan tersebut, kami juga akan memenuhi komitmen kami," tulisnya via media sosial X. Kalimat berikutnya memperingatkan bahwa Iran siap "membela diri secara tegas". Bak gayung bersambut, tapi tangan masih setengah terulur.
Dari Washington, delegasi yang dikirim ke Doha bukan delegasi sembarangan. Steve Witkoff, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, dijadwalkan hadir bersama Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat Trump. Komposisi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih diutamakan, setidaknya untuk saat ini.
Ancaman militer belum sepenuhnya disimpan, bukan karena Trump tidak mau, tapi karena memang belum perlu. Beberapa waktu sebelumnya, Trump sudah memberi ultimatum yang jauh lebih keras: capai kesepakatan, atau AS akan "menuntaskan tugasnya". Eufemisme untuk opsi militer, dan konteksnya tidak bisa diabaikan. Menlu Marco Rubio pun mengakui bahwa pilihan lain masih ada di atas meja jika negosiasi buntu.
Soal sanksi, Trump sudah menegaskan posisinya kepada PBS News: sekalipun Iran setuju menyerahkan uranium yang diperkaya, sanksi tidak akan dicabut. "Tidak, tidak sama sekali. Bukan pencabutan sanksi, tidak," begitu kira-kira bunyinya. Ini yang bikin sejumlah analis mempertanyakan seberapa jauh Teheran mau melangkah dalam meja perundingan, kalau insentif ekonomi terbesar justru tidak dijanjikan.
Trump sendiri, entah kebetulan atau tidak, memilih diksi yang cukup hati-hati soal hasil pertemuan Doha. "Mungkin akan menjadi pertemuan yang penting, mungkin juga tidak," katanya. Untuk seorang presiden yang gemar mengklaim kemenangan, framing seperti ini agak tidak biasa. Bisa jadi sinyal bahwa ekspektasi internal Washington juga tidak setinggi klaim publiknya.
Pertanyaannya, berapa lama ambiguitas ini bisa dipertahankan kedua pihak? Selama angka-angka pengayaan uranium Iran belum di atas meja secara transparan, dan sanksi masih menjadi senjata tawar AS, kesepakatan yang benar-benar mengikat agaknya masih jauh dari kenyataan, kalau data ini bisa dipercaya.