Pertemuan Trump dan Zelenskyy di sela KTT NATO di Ankara, Rabu (8/7/2026), menghasilkan satu keputusan yang bisa mengubah peta kekuatan udara di atas Ukraina: Washington resmi memberikan lisensi kepada Kyiv untuk memproduksi sendiri rudal Patriot, sistem pertahanan udara paling strategis yang selama ini menjadi tulang punggung perlindungan mereka dari gempuran Rusia.
Selama lebih dari empat tahun perang, Zelenskyy berulang kali mendesak AS menambah pasokan Patriot. Bukan tanpa alasan. Tiap rudal yang diproduksi Raytheon, anak usaha RTX Corp, dibanderol sekitar 3 juta hingga 4 juta dolar AS, setara Rp 54 miliar hingga Rp 72 miliar per unit. Mahal. Dan ketika Ukraina paling membutuhkannya, AS sendiri sedang menarik stok untuk kebutuhan konflik di Iran.
Trump, agaknya sadar betul dengan dilema itu, memilih jalur berbeda. "Kami akan memberi Anda lisensi untuk membuat Patriot. Itu cukup keren. Dengan cara ini, Anda tidak bisa lagi mengeluh bahwa kami tidak memberikan pasokan yang cukup," ujarnya kepada Zelenskyy. Ia menambahkan rencana pengiriman rudal tambahan dalam waktu dekat, sambil memastikan Raytheon akan dilibatkan langsung dalam proses transfer teknologi ini. "Saya pikir mereka dapat memproduksinya dengan cukup cepat. Setelah kita menjelaskannya, kita akan membawa perusahaan itu ke sini," lanjut Trump.
Bukan angka kecil yang dipertaruhkan. Dalam forum yang sama, NATO berkomitmen menggelontorkan bantuan senilai 80 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 1.448 triliun, khusus untuk memenuhi kebutuhan pertahanan Ukraina di tahun ini dan tahun depan.
Respons dari Moskow tajam, seperti yang sudah-sudah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyebut NATO tidak pernah benar-benar berubah haluannya: militerisasi Eropa dan persiapan konflik terbuka dengan Rusia. "Sangat disayangkan. Jika para ahli strategi NATO berhenti dan berpikir sejenak, mereka mungkin tidak akan membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab seperti itu yang dapat menyebabkan bencana tidak hanya bagi aliansi, tetapi juga bagi seluruh dunia," tegasnya. Zakharova juga menyinggung keretakan antara Washington dan aliansinya yang dinilai belum benar-benar menutup, mengutip soal Greenland dan kekecewaan AS terhadap solidaritas NATO.
Dari Berlin datang manuver berbeda. Komite Anggaran Bundestag menyetujui pengeluaran 6,3 miliar euro, sekitar 7,2 miliar dolar AS, untuk membangun empat fregat anti-kapal selam kelas F128, atau MEKO A-200 DEU. Dirancang spesifik untuk menutup celah kemampuan peperangan bawah laut di Atlantik Utara dan mengamankan jalur pasokan NATO yang vital. Bacaan Berlin terhadap ancaman itu, kalau boleh jujur, tidak berbeda jauh dari Washington, hanya sudutnya yang lain.
Pertanyaan yang belum terjawab: di mana fasilitas produksi Patriot itu akan dibangun? Bukan soal administratif biasa. Begitu lokasi diketahui publik, ia otomatis masuk daftar target rudal balistik Rusia yang selama ini kerap diarahkan ke infrastruktur sipil Kyiv.
Michael McFaul, mantan Duta Besar AS untuk Rusia, meletakkan persoalan ini secara lugas: lisensi produksi memang langkah besar, tapi Ukraina butuh interseptor sekarang, bukan dua-tiga tahun ke depan saat lini produksi baru mulai berjalan. Pertanyaannya, berapa lama Kyiv sanggup bertahan dengan stok yang ada?
Trump sendiri tampak optimistis soal prospek perdamaian, walau mengakui betapa sulitnya Putin sebagai mitra negosiasi. "Kita telah menyelesaikan banyak perang. Ini perang yang saya kira mungkin akan menjadi yang termudah. Namun, Putin adalah karakter yang sulit. Orang ini juga karakter yang sulit," ujarnya, merujuk pada Zelenskyy yang duduk di sebelahnya. Setengah bercanda, setengah serius.
Zelenskyy menutup hari itu dengan posting di X, menyebut ada beberapa ide yang dibahas untuk memperkuat posisi Ukraina dan membawa perdamaian lebih dekat. Formulasi yang hati-hati, setidaknya itu klaim resminya. Waktu dan situasi di lapangan yang akan membuktikan.