Dari dua arah berbeda, pesan Donald Trump ke Teheran pekan ini sama jelasnya: Iran tidak punya posisi tawar, dan Washington tidak terburu-buru.
Kepada wartawan pada Jumat (21/8) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa meski Iran ingin berunding, mereka belum siap mencapai kesepakatan yang layak. "Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi menurut saya mereka belum siap membuat kesepakatan yang tepat," kata Trump. Kalimat itu tidak keluar dari ruang hampa. Dua hari kemudian, lewat Truth Social, ia mengunggah satu baris kalimat kapital yang langsung beredar luas: "IRAN RUNTUH TOTAL!!!"
Gambaran yang ia lukiskan memang suram buat Teheran. Inflasi 350 persen. Angkatan laut praktis lumpuh, angkatan udara habis, bahkan gaji tentara dan polisi pun diklaim tidak terbayar. Bukan retorika kosong semata, setidaknya kalau kita ikuti narasi Washington.
Menteri Keuangan Scott Bessent menambahkan lapisan tekanan dari sisi fiskal. Pada Minggu, ia menyebut AS sedang memasuki apa yang ia namai "economic D-Day" terhadap Iran, dan berjanji merinci paket sanksi terberat dalam sejarah AS pada Senin ini. "Presiden Trump telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, menghancurkan hampir 100 persen pabrik militernya, dan mengubur program nuklirnya," tulis Bessent di platform X. Klaim besar yang, entah kebetulan atau tidak, belum bisa diverifikasi secara independen di lapangan.
Kendali atas Selat Hormuz jadi kartu truf yang terus dimainkan Washington. Trump menegaskan AS memegang "kendali penuh" atas selat itu beserta wilayah daratan di sekitarnya di selatan Iran. Bukan klaim ringan. Sebelum serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu, jalur perairan itu menanggung sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global. Penutupan sebagian selat oleh Teheran, dibalas blokade angkatan laut AS, sudah cukup membuat pasar energi was-was berbulan-bulan.
Teheran sendiri bermain dengan narasi yang berlawanan arah. Presiden Masoud Pezeshkian menyebut sudah waktunya mengakhiri perang, bukan karena terdesak, melainkan karena Iran kini berada di posisi yang kuat dan bermartabat. "Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang karena kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat," kata Pezeshkian dalam pertemuan dengan para dokter di negaranya, dilansir AFP. "Seluruh dunia mengakui kemenangan kita," imbuhnya, seraya menyindir AS yang dinilainya telah menyerang sekolah dan rumah sakit.
Dua klaim kemenangan yang saling meniadakan. Agaknya salah satunya sedang menipu diri sendiri, atau keduanya.
Perundingan antara kedua negara masih buntu. Nota kesepahaman yang sempat ditandatangani pada Juni, yang menyerukan penghentian permusuhan dan pemulihan pelayaran di Hormuz, gagal diimplementasikan karena kedua pihak tidak sepakat soal ketentuan teknis. Siklus yang sudah berulang sejak konflik ini pecah di pengujung Februari, ketika AS dan Israel pertama kali melancarkan serangan ke Iran.
Dengan sanksi baru yang akan diumumkan Senin ini dan tekanan ekonomi yang terus diperketat, ruang gerak Teheran kian sempit. Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran akan kembali ke meja perundingan, tapi dengan syarat apa, dan siapa yang akan berkedip lebih dulu.