RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Ingin Duduk Semeja dengan Mojtaba Khamenei,...

Internasional

Trump Ingin Duduk Semeja dengan Mojtaba Khamenei, Meski Kabarnya Terluka Parah

Di tengah kebuntuan perundingan nuklir dan ketegangan dengan Netanyahu, Trump mengaku ingin bertemu pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang kehilangan seluruh keluarga intinya dalam serangan AS-Israel.

Usai Ribut dengan Netanyahu, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei

Tiga bulan setelah serangan yang menewaskan Ali Khamenei beserta ibu, istri, dan anak Mojtaba, Donald Trump kini menyatakan ingin bertemu langsung dengan putra yang naik menggantikan sang ayah sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

"Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," kata Trump dalam siniar "Pod Force One" milik New York Post, Rabu (3/6/2026). Diucapkan dengan santai, seolah Washington tidak pernah mengirim rudal pada 28 Februari lalu.

Soal kondisi fisik Mojtaba, Trump tidak berputar-putar. Ia mengaku mendengar kabar bahwa pemimpin baru Iran itu tidak sehat, dan AS sendiri meyakini Mojtaba turut terluka dalam serangan yang sama. "Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik. Jika Anda percaya cerita-cerita itu, dia kehilangan banyak bagian tubuh," ujarnya. Kalimat yang, entah kebetulan atau tidak, terdengar seperti kalkulasi geopolitik lebih dari sekadar empati.

Situasinya, terus terang saja, sedang kacau. Iran baru menangguhkan seluruh dialog dan negosiasi dengan mediator AS, buntut serangan Israel yang terus menghantam Lebanon meski gencatan senjata sudah disepakati. Tim perunding Teheran menyatakannya terang-terangan lewat kantor berita Tasnim: "Mengingat kejahatan berkelanjutan rezim Zionis di Lebanon dan mengingat bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat untuk gencatan senjata, dan gencatan senjata ini sekarang dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon, tim perunding Iran menangguhkan dialog dan pertukaran teks melalui mediator."

Trump tidak tinggal diam menghadapi ulah Netanyahu. Senin (1/6/2026), ia menelepon Perdana Menteri Israel itu, dan percakapannya disebut sumber AS berlangsung keras, bahkan sangat keras. "Kamu benar-benar gila, kamu akan berada di penjara kalau bukan karena saya. Saya menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," begitu petikan yang bocor ke media. Israel akhirnya membatalkan rencana serangan udara ke Lebanon atas permintaan Trump, yang tengah berjuang keras membawa Iran kembali ke meja perundingan.

Hanya saja, Iran punya syarat yang tidak ringan. Selain gencatan senjata yang benar-benar dipatuhi di Gaza dan Lebanon, Mojtaba sudah memasang garis keras soal uranium. Bulan lalu, ia menginstruksikan agar stok uranium diperkaya Iran tidak boleh dikirim ke luar negeri dalam kondisi apapun. Dua pejabat senior Iran mengonfirmasi instruksi ini kepada Reuters: kepemimpinan Iran meyakini bahwa memindahkan uranium ke luar negeri justru membuat mereka lebih rentan terhadap serangan berikutnya. Berdasarkan data IAEA, Iran mengantongi sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pemurnian 60 persen saat fasilitas nuklirnya dihajar pada Juni 2025.

440 kilogram. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Bagi para perunding, ini bukan sekadar urusan teknis. Posisi Mojtaba soal uranium mencerminkan konsensus internal yang sulit digoyang, terlepas dari berapa banyak telepon yang Trump buat atau seberapa keras nada bicaranya dengan Netanyahu. Pertanyaannya: apakah tawaran pertemuan itu tulus, atau sekadar manuver retorika untuk menunjukkan Washington masih memegang kendali narasi?