SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Incar Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51, Ca...

Internasional

Trump Incar Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51, Caracas: Tidak Akan Pernah

Donald Trump menyatakan serius mempertimbangkan Venezuela sebagai negara bagian AS, tapi pemerintah sementara Caracas langsung menutup pintu rapat-rapat.

Rencana Gila Trump Jadikan Venezuela Negara Bagian AS

Donald Trump rupanya belum puas dengan penangkapan Nicolas Maduro. Kini ia melempar gagasan yang lebih kontroversial: menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.

Kepada Fox News pada Senin (11/5) waktu setempat, Trump bilang ia "serius" mempertimbangkan opsi itu. Bukan gertakan semata. Sebelumnya, di platform Truth Social miliknya pada Maret 2026, Trump sudah melempar sinyal: "Hal-hal baik terjadi pada Venezuela akhir-akhir ini! Saya bertanya-tanya tentang keajaiban apa ini? KEBANGSAAN, #51, ADA YANG TERTARIK?"

Serius.

Semua ini bermula dari penangkapan dramatis Maduro oleh tentara AS di Ciracas pada 3 Januari 2026. Momentum itu langsung dipakai Trump untuk menekan Caracas agar membuka akses ke cadangan minyak dan bahan bakar fosil Venezuela yang termasuk terbesar di dunia. Tapi agaknya kontrol atas sumber daya alam saja belum cukup.

Respons dari Caracas datang cepat dan tegas. Presiden sementara Delcy Rodriguez, yang tengah berada di Den Haag untuk sidang di Mahkamah Internasional, menegaskan bahwa wacana itu "tidak akan pernah dipertimbangkan". "Jika ada satu hal yang dimiliki oleh kami, kaum pria dan wanita Venezuela, adalah bahwa kami mencintai proses kemerdekaan kami, kami mencintai para pahlawan pria dan pahlawan wanita kemerdekaan kami," kata Rodriguez kepada wartawan saat meninggalkan sidang, Selasa (12/5/2026).

Menarik, karena Rodriguez sebenarnya bukan lawan Trump. Perempuan yang sebelumnya menjabat wakil presiden di bawah Maduro ini sedang berjalan di atas tali diplomatik yang rumit: harus memuaskan Washington, tanpa kehilangan narasi kedaulatan di hadapan rakyat sendiri.

Dua kepentingan yang, kalau data ini bisa dipercaya, ia kelola cukup lihai. Rodriguez telah mengesahkan serangkaian reformasi yang membuka sektor minyak dan pertambangan Venezuela bagi perusahaan asing, mayoritas dari AS. Trump sendiri berulang kali memuji langkah-langkah itu. Undang-undang amnesti yang ia dorong juga sudah membebaskan ratusan tahanan politik, meski sekitar 500 orang dilaporkan masih mendekam di balik jeruji.

Jadi ketika Rodriguez menyebut pemerintahannya sedang menjalankan "agenda kerja sama diplomatik" dengan Washington, itu bukan retorika kosong. Hubungan dua negara ini sedang mencair, di bawah tekanan yang sangat nyata dari sisi Trump.

Pertanyaannya sekarang: apakah wacana negara bagian ke-51 ini cuma kartu negosiasi untuk memeras konsesi lebih jauh dari Caracas, atau memang ada grand design yang lebih besar? Bagi pelaku pasar dengan eksposur ke sektor energi, jawaban atas pertanyaan itu bisa jauh lebih penting dari sekadar drama geopolitik biasa.