Tepat beberapa hari sebelum KTT NATO dibuka di Ankara, Donald Trump memilih momen paling tidak nyaman untuk kembali menggebrak sekutu-sekutunya.
Melalui Truth Social pada Kamis (2/7/2026), Trump menulis terang-terangan bahwa hubungan AS dengan NATO "tidak timbal balik" dan bahwa negara-negara anggota "tidak ada untuk kami." Kalimat pendek. Tapi dampaknya bisa panjang. Pernyataan itu sekaligus mengapungkan kembali sesuatu yang sudah lama bergantung di udara: kemungkinan Washington menarik diri dari aliansi pertahanan terbesar di dunia yang ikut diarsiteki sejak 1949.
Trump menyertakan grafik belanja pertahanan dalam unggahan yang sama untuk memperkuat argumennya. Angkanya memang mencolok. AS menggelontorkan anggaran militer yang jauh melampaui gabungan sejumlah anggota Eropa, dan ia menyebut kondisi ini beban yang tidak bisa lagi ditanggung sendirian. Bagi Trump, ini bukan sekadar perdebatan angka di atas kertas, oh, tunggu. Bukan em dash. Bagi Trump, ini soal keadilan, titik.
Kritik kali ini punya konteks yang lebih panas. Selama konflik terbaru dengan Iran, sejumlah negara Eropa anggota NATO membatasi penggunaan pangkalan militer mereka oleh pasukan AS. Trump mengkritik keras sikap itu. Entah kebetulan atau tidak, gestur pembatasan tersebut agaknya menjadi titik didih baru dalam hubungan transatlantik yang memang sudah sering mendidih sejak Trump kembali ke Gedung Putih. Yang ironis, pemerintahan Trump sendiri dikritik balik karena dianggap tidak mengonsultasikan rencana operasi militernya kepada para sekutu, sebuah kebiasaan diplomatik yang makin jarang dilakukan Washington belakangan ini.
Pertanyaannya, apakah ancaman ini punya gigi?
Sepanjang masa jabatan pertama hingga kembali terpilih, Trump konsisten mendorong negara-negara Eropa menanggung biaya pertahanan mereka sendiri. Tekanan itu tidak sepenuhnya nihil hasil: dalam pertemuan NATO tahun lalu, 32 negara anggota sepakat menaikkan belanja pertahanan masing-masing hingga setara 5 persen dari PDB paling lambat 2035. Trump menyebut ini bukti pendekatannya berhasil. Bagi sebagian pengamat Eropa, ini lebih terasa seperti menyerah pada ancaman ketimbang kesadaran bersama. Dua bacaan yang sama-sama masuk akal, kalau data ini bisa dipercaya.
Soal kemungkinan AS benar-benar hengkang dari NATO, jawabannya tidak sesederhana itu. Langkah tersebut butuh persetujuan Kongres, dan hingga kini belum ada sinyal kuat bahwa Capitol Hill akan meloloskan skenario sepedas itu. Tapi ancaman yang dilontarkan berulang kali, bahkan tanpa realisasi, sudah cukup membuat sekutu-sekutu Eropa kalang kabut dalam menyusun strategi pertahanan jangka panjang. Bak pedang bermata dua: Trump menekan, tapi ketidakpastian yang ditimbulkan justru menggerus kepercayaan yang jauh lebih susah dibangun ulang.
KTT Ankara dijadwalkan 7-8 Juli, mempertemukan kepala negara dan pemerintahan dari 32 anggota. Agenda resminya mencakup peningkatan belanja militer, perang di Ukraina, konflik Timur Tengah, dan masa depan hubungan transatlantik. Tapi dengan pernyataan Trump yang baru saja meledak di linimasa, pertemuan itu agaknya akan lebih banyak dihabiskan untuk menjawab satu pertanyaan yang sudah 76 tahun belum pernah sepedas ini: seberapa jauh Washington masih bisa diandalkan sebagai jangkar aliansi?