RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Dorong Infantino Jadi Sekjen PBB, dari Marka...

Internasional

Trump Dorong Infantino Jadi Sekjen PBB, dari Markas FIFA ke Markas PBB?

Donald Trump disebut-sebut mendukung Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menggantikan Antonio Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB mulai 2027, memanfaatkan momentum kedekatan keduanya selama Piala Dunia 2026.

Trump Disebut Dorong Bos FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB

Kedekatan Gianni Infantino dengan Donald Trump selama Piala Dunia 2026 agaknya bukan sekadar urusan sepak bola. Trump kini disebut-sebut mendorong Presiden FIFA itu untuk mengisi kursi Sekretaris Jenderal PBB yang akan kosong akhir tahun ini.

New York Post, mengutip sejumlah sumber dekat dengan Trump, melaporkan presiden berusia 79 tahun itu meyakini Infantino dihormati oleh semua pihak di dunia dan punya kemampuan khusus untuk mempersatukan orang. Penilaian yang cukup tinggi untuk seseorang yang selama ini lebih dikenal karena urusan offside dan Financial Fair Play.

Kedekatan keduanya memang bukan hal baru. Puncaknya terjadi Desember 2025, ketika Infantino menganugerahkan Peace Prize perdana FIFA kepada Trump. Banyak pengamat membaca langkah itu sebagai upaya Infantino merawat hubungan dengan orang paling berpengaruh di Washington. Bak gayung bersambut, Trump kini membalasnya dengan dukungan yang jauh lebih bernilai.

Namun jalan menuju Markas Besar PBB di New York tidak semudah memenangkan tender Piala Dunia. Sesuai Pasal 97 Piagam PBB, calon Sekjen harus meraih dukungan dari 15 anggota Dewan Keamanan, tanpa veto dari satu pun anggota tetap, sebelum dikonfirmasi Majelis Umum. Dukungan AS, dengan kata lain, baru setengah perjuangan.

Masa jabatan Antonio Guterres asal Portugal berakhir 31 Desember 2026. Penggantinya mulai bertugas 1 Januari 2027, untuk masa bakti lima tahun. Persaingan untuk posisi ini, menurut salah satu orang dalam, diisi tujuh kandidat yang digambarkan kurang meyakinkan. Trump melihat celah di situ.

Nama-nama yang beredar antara lain mantan Presiden Chile Michelle Bachelet, tokoh sosialis yang berpotensi dihajar resistensi keras dari Washington, dan Rafael Grossi dari Argentina, Direktur Jenderal IAEA, yang bisa menghadapi keberatan dari London terkait sengketa Kepulauan Falkland. Kalau memang itu pilihan yang tersedia, tidak sulit memahami mengapa Trump tertarik mencari kandidat di luar daftar.

Munculnya nama Infantino sekaligus berpotensi mengacak-acak konvensi tidak tertulis soal rotasi geografis. Banyak pihak memperkirakan Sekjen berikutnya datang dari kawasan Amerika Latin atau Karibia, wilayah yang terakhir diwakili Javier Perez de Cuellar asal Peru pada 1982-1991. Tapi rotasi itu tidak mengikat secara hukum. Sumber-sumber yang sama menyebutkan hal itu tidak serta-merta menutup peluang Infantino, yang bahkan disebut berpotensi meraup dukungan dari sejumlah negara lain di luar blok AS.

Apakah Infantino sendiri tertarik? Belum jelas. Hingga laporan ini beredar, ia belum memberikan respons atas permintaan komentar New York Post. Yang sudah pasti, ia telah mendeklarasikan pencalonan kembali sebagai Presiden FIFA, dengan pemilihan dijadwalkan Maret 2027, dan mengantongi dukungan dari hampir seluruh 211 asosiasi anggota. Dua jabatan besar di dua arena berbeda. Ia harus memilih.

Konteks politiknya tak kalah menarik. Trump yang sudah memangkas pendanaan AS ke PBB, menarik negaranya dari WHO, dan sempat memancing spekulasi soal pembentukan Dewan Perdamaian pimpinan AS pada 2025, kini justru ingin menempatkan orangnya di puncak lembaga multilateral yang selama ini ia kritik. Entah ini strategi mengontrol PBB dari dalam, atau sekadar gestur diplomatik, yang jelas langkah ini membuat lebih dari satu ibu kota di Eropa dan Asia mengernyitkan dahi.

Rekam jejak Infantino di FIFA pun tidak bersih dari catatan. Kontroversi terbaru datang dari Piala Dunia 2026, ketika komite disiplin FIFA menangguhkan sanksi larangan bermain yang dijatuhkan kepada Folarin Balogun setelah ada tekanan dari Trump. Pemain AS itu akhirnya tetap turun di babak 16 besar melawan Belgia. Keputusan itu memicu protes dari negara-negara Eropa, meski kemarahan agak mereda setelah AS kalah dari Belgia. Reputasi independensi FIFA, dan Infantino, menanggung risikonya.