KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Buka Peluang Temui Mojtaba Khamenei, Tapi Ha...

Internasional

Trump Buka Peluang Temui Mojtaba Khamenei, Tapi Harus Ada Deal Nuklir Dulu

Donald Trump menyatakan bisa saja bertemu pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, tapi dengan satu syarat mutlak: Iran harus buang jauh-jauh ambisi senjata nuklirnya.

Trump Bilang Mungkin Ketemu Mojtaba Khamenei Jika Ada Deal

Donald Trump tidak menutup pintu pertemuan dengan Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru naik jabatan sejak awal Maret lalu. Bahkan Trump menyebut dirinya akan merasa "terhormat" jika pertemuan itu benar-benar terwujud, dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar.

"Saya tidak ingin bertemu, tetapi jika saya bertemu, saya akan merasa terhormat untuk bertemu dengannya," kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip Anadolu Agency, Jumat (5/6/2026). Sehari sebelumnya, Kamis (4/6), ia sudah lebih dulu menyatakan: "Saya ingin melihat apakah kita mencapai kesepakatan, tetapi jika kita telah mencapai kesepakatan, ada kemungkinan saya akan bertemu dengannya."

Mojtaba menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas bersama sejumlah anggota keluarganya dalam gelombang awal serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Mojtaba sendiri dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan yang sama. Sejak dilantik, ia belum sekalipun muncul ke hadapan publik.

Ironis, memang. Washington yang ikut menghancurkan keluarga inti pimpinan Iran kini menjajaki kemungkinan berjabat tangan dengan penerusnya.

Soal lokasi pertemuan, Trump belum mau masuk terlalu jauh. Ketika ditanya apakah skenarionya berlangsung di AS, ia menjawab: "Saya belum banyak mendengar tentang hal itu. Saya tidak menyarankan itu, tetapi beberapa orang telah menyarankan demikian."

Kesepakatan yang dimaksud Trump bukan sekadar gencatan senjata di atas kertas. "Sejauh menyangkut Iran, Anda akan mengetahui apa kesepakatannya, tetapi bagian utama dari kesepakatan itu adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegasnya. Denuklirisasi penuh, bukan setengah-setengah.

Selat Hormuz ikut masuk agenda. Trump optimistis jalur strategis yang sempat dibatasi Iran itu akan segera dibuka kembali. "Selat itu akan segera dibuka, dan kami sebagian besar telah melakukan penyapuan ranjau," ujarnya, sembari menyebut AS punya kemampuan penyapuan ranjau bawah laut yang mumpuni. Kalau data ini bisa dipercaya, proses itu sudah hampir tuntas.

Tapi di napas yang sama, ancaman keluar juga. Ketika ditanya soal kemungkinan eskalasi militer jika Iran kembali menewaskan tentara AS di kawasan, Trump menjawab singkat dan dingin: "Itu akan menjadi alasan yang bagus. Jujur saja, jika mereka membunuh tentara-tentara AS, saya pikir saya akan melakukannya dengan sangat cepat."

Gambaran keseluruhan? Jauh dari stabil. Gencatan senjata yang berlaku saat ini digambarkan rapuh, sementara negosiasi menuju kesepakatan yang lebih komprehensif masih terus berjalan. Konflik ini dimulai 28 Februari dengan serangan skala besar AS-Israel ke Iran. Teheran membalas dengan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Washington, sekaligus mengunci sebagian akses Hormuz yang vital bagi pasokan energi global.

Pertemuan Trump-Mojtaba, kalau benar terwujud, akan menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam sejarah hubungan AS-Iran yang sudah puluhan tahun diwarnai permusuhan. Pertanyaannya sederhana: apakah ini terobosan sejati, atau sekadar foto op di antara puing-puing konflik yang belum padam?