SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Bela Pakistan sebagai Mediator Iran, Graham...

Internasional

Trump Bela Pakistan sebagai Mediator Iran, Graham Meradang

Di tengah ketegangan diplomatik yang belum mereda, Trump justru memuji Pakistan sebagai mediator antara AS dan Iran, sementara Senator Lindsey Graham terang-terangan menyatakan ketidakpercayaannya pada Islamabad.

US Senator Lindsey Graham, a close aide to Donald Trump, stated he does not trust Pakistan while raising concerns over its role as a possible mediator between Iran and the United States.

Donald Trump tidak bergeming.

Meski sekutunya di Senat, Lindsey Graham, secara terbuka mempertanyakan kelayakan Pakistan sebagai mediator dalam negosiasi nuklir dengan Iran, presiden AS itu tetap membela Islamabad dengan nada hangat yang jarang ia tunjukkan untuk mitra diplomatik mana pun. "Mereka hebat. Menurut saya warga Pakistan itu hebat. Field marshal dan perdana menteri Pakistan benar-benar hebat," ujar Trump kepada wartawan, Selasa (12/5).

Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Graham menggebrak di hadapan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan jenderal senior AS Dan Caine. Pemicunya: laporan CBS News yang menyebut Pakistan mengizinkan Iran menempatkan aset militer di landasan udaranya, melindunginya dari kemungkinan serangan lanjutan AS dan Israel. Hegseth menolak berkomentar dengan alasan sensitivitas negosiasi. Graham tidak mau diam.

"Saya sama sekali enggak percaya pada Pakistan," tegas senator dari South Carolina itu. Kalau laporan CBS terkonfirmasi, katanya, AS perlu segera mencari mediator alternatif. "Pantas saja urusan ini enggak pernah ada kemajuan."

Graham bukan sembarang suara. Salah satu figur paling berpengaruh di orbit Trump, elang kebijakan luar negeri ini sudah vokal menyerukan perubahan rezim di Teheran jauh sebelum perang pecah pada 28 Februari. Beberapa minggu sebelum konflik meletus, ia bertemu Trump di Florida dan menyerahkan sebuah topi bertuliskan "Make Iran Great Again", gestur yang kini terasa ironis. Eh, maaf: sebuah topi bertuliskan "Make Iran Great Again", gestur yang kini terasa ironis mengingat betapa alotnya jalur damai ini.

Ketegangan internal ini cermin retak dari konsensus Washington soal strategi terhadap Iran. Pakistan, yang mengklaim peran sebagai fasilitator setelah ikut menengahi gencatan senjata yang mulai berlaku bulan lalu, terus berupaya menghidupkan kembali dialog yang mandek. Manuver Islamabad, agaknya, belum cukup meyakinkan semua pihak, terutama setelah laporan soal landasan udara itu beredar luas.

Perkembangan di lapangan tidak lebih menjanjikan. Minggu lalu Trump menyebut proposal terbaru Teheran "tak dapat diterima." Sebelumnya, akhir April, Washington sudah berencana mengirim utusan ke Pakistan untuk bertemu pejabat Iran. Batal. Teheran mensyaratkan pencabutan blokade laut di pelabuhan-pelabuhannya sebagai prasyarat melanjutkan pembicaraan.

Satu langkah maju, dua langkah mundur.

Yang lebih penting dari perdebatan soal siapa mediatornya: sinyal apa yang dikirim perpecahan terbuka Trump-Graham ini kepada Teheran? Ketika kubu Washington sendiri tidak satu suara, ruang bagi Iran untuk bermanuver justru bisa melebar. Pakistan bisa jadi yang paling diuntungkan dari situasi ini, atau justru paling terjebak.