SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Ancam Pangkas Dana NATO Triliunan Dolar, Mur...

Internasional

Trump Ancam Pangkas Dana NATO Triliunan Dolar, Murka Ditinggal Sendirian di Perang Iran

Trump marah besar karena negara-negara NATO menolak membantu AS dalam perang melawan Iran, dan kini mengancam akan memangkas kontribusi finansial Amerika ke aliansi tersebut secara serius.

Triliunan dolar. Angka itulah yang kini digantungkan Trump di atas kepala NATO seperti guillotine.

Berbicara kepada wartawan di Pangkalan Militer Gabungan Andrews, Presiden AS tersebut menyatakan pengeluaran Amerika untuk aliansi pertahanan Atlantik Utara itu akan masuk dalam pengawasan yang ia sebut "sangat serius." Pemicunya jelas: negara-negara anggota NATO kompak menolak membantu Washington saat AS dan Israel melancarkan operasi militer melawan Iran.

"Mereka tidak ada di sana untuk kami. Sekarang mereka ingin membantu, tapi ancaman nyatanya sudah tidak ada lagi," kata Trump.

Selama konflik Iran berlangsung, Trump meminta negara-negara Barat ikut berjaga di Selat Hormuz. Mayoritas anggota NATO menolak. Bagi Trump, itu bukan sekadar sikap politik, itu pengkhianatan.

"Kami telah menghabiskan triliunan dolar untuk NATO, untuk membantu mereka melindungi diri dari Rusia. Saya sudah lama berpikir itu agak berlebihan," tegasnya. Kini, menurut dia, uang sebesar itu layak dievaluasi ulang.

Kemarahan ini bukan datang tiba-tiba. Jauh sebelum pernyataan di Andrews, Trump sudah blak-blakan soal penolakan yang ia terima dari para sekutu. "Tidak, tidak, tidak, kami tidak akan membantu," begitu Trump menirukan respons para pemimpin NATO saat dimintai dukungan. Ia menuding aliansi itu bahkan secara aktif berusaha menjauhi konflik sepenuhnya, sebuah sikap yang ia nilai memperlihatkan kelemahan organisasi yang seharusnya jadi benteng pertahanan Barat.

"Aliansi ini adalah macan kertas yang tidak ditakuti oleh Presiden Rusia Vladimir Putin," serang Trump.

Bukan sekadar retorik panas. Kali ini ada konsekuensi konkret yang mengikutinya.

Wall Street Journal melaporkan Trump sampai mempertimbangkan menarik pasukan AS dari negara-negara anggota NATO yang dinilai tidak pro-Washington. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pun membenarkan bahwa opsi penarikan AS dari NATO sedang di atas meja, pernyataan yang, kalau dipikir-pikir, jarang keluar dari mulut juru bicara resmi Gedung Putih.

Yang agak mengejutkan: ketidakpuasan Trump terhadap NATO ternyata punya akar yang lebih tua dari soal Iran. Saat membahas asal-muasal kekecewaannya, Trump justru menyebut nama yang tidak terduga: Greenland. Ia mengaku titik balik hubungannya dengan aliansi itu bermula ketika NATO tidak mendukung hasratnya mencaplok wilayah yang dikuasai Denmark tersebut. "Kami menginginkan Greenland. Mereka tidak mau memberikannya. Dan saya bilang, sampai jumpa," tutur Trump.

Semua ini mencuat tepat menjelang kunjungan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte ke Washington. Rutte dijadwalkan menemui Trump, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, pertemuan yang dikonfirmasi pihak aliansi sebagai upaya meredam tensi. Uniknya, Trump secara pribadi menyebut Rutte sosok yang "luar biasa," meski dalam napas yang sama terus menghajar organisasi yang dipimpinnya.

Kritik Trump kali ini tidak berhenti di NATO. Korea Selatan, Australia, dan Jepang pun kena semprot karena dianggap absen. Sebaliknya, ia memuji negara-negara Teluk, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, hingga UEA, atas dukungan penuh mereka selama konflik Iran berlangsung.

Ancaman semacam ini bukan pertama kalinya. Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump sudah beberapa kali melontarkan gertakan serupa, termasuk soal urunan biaya pertahanan yang dianggap tidak adil. Tekanan itu pernah berhasil: pada Juni 2025, para anggota NATO sepakat menaikkan kontribusi masing-masing menjadi lima persen dari GDP.

Entah kebetulan atau tidak, kali ini tekanannya terasa lebih personal. Dan lebih panas.