RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Ancam Lanjutkan Serangan, Biaya Perang Iran...

Internasional

Trump Ancam Lanjutkan Serangan, Biaya Perang Iran Kini Tembus Rp507 Triliun

Gencatan senjata AS-Iran kian rapuh. Biaya perang membengkak hingga USD 29 miliar, sementara Trump terang-terangan mengancam bisa melumpuhkan seluruh infrastruktur Iran dalam dua hari.

⁠Iran Belum Teredam tapi AS Rogoh Kantong Lebih Dalam

Gencatan senjata yang berlaku sejak awal April itu kian terasa seperti perdamaian di atas kertas. Trump, berbicara kepada Fox News usai kunjungannya ke China pada Jumat (15/5/2026), tidak banyak basa-basi soal apa yang masih bisa dilakukan Washington terhadap Teheran.

"AS membiarkan jembatan mereka, kami membiarkan kapasitas listrik mereka. Kami bisa melumpuhkan semua itu dalam dua hari. Semuanya," ujar Trump. Bukan sekadar gertakan. Konteksnya jelas: negosiasi damai masih buntu, dan Pentagon baru saja mengakui biaya perang sudah membengkak jauh dari perkiraan awal.

Di Capitol Hill, kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III mengungkapkan total pengeluaran militer AS dalam konflik ini kini mendekati USD 29 miliar, atau sekitar Rp506,9 triliun. Naik sekitar USD 4 miliar hanya dalam dua minggu. Sebagai pembanding, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut angka USD 25 miliar saat bersaksi di hadapan parlemen pada 29 April. Hurst menjelaskan selisihnya berasal dari pembaruan kalkulasi biaya perbaikan dan penggantian peralatan militer, ditambah pengeluaran operasional yang terus berjalan.

Angka itu punya efek politiknya sendiri. Rosa DeLauro, pemimpin Demokrat di Komite Alokasi Anggaran DPR, mengajukan pertanyaan yang agaknya tak mudah dijawab siapapun: "Apa yang telah kita capai dan berapa biayanya?" Partai Demokrat, yang sejak awal menentang perang ini, berulang kali mencoba membatasi wewenang perang Trump, tapi selalu diblokir Partai Republik. Frustrasi lama, hasil sama.

Dari Teheran, posisi Iran tidak bergerak satu inci pun. Perunding utama Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan tidak ada alternatif selain AS menerima lima syarat Iran sebagai prasyarat untuk kembali ke meja perundingan. Lima syarat itu mencakup pengakhiran perang di semua front terutama Lebanon, pencabutan sanksi, pelepasan aset Iran yang dibekukan, kompensasi atas kerusakan perang, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz. Bukan angka tawaran pembuka. Iran menyebutnya "jaminan minimum" untuk membangun kepercayaan.

AS sebelumnya mengajukan rencana perdamaian 14 poin, yang oleh pihak Iran digambarkan sebagai "sepenuhnya sepihak" dan dianggap tidak lebih dari upaya mengamankan tujuan perang yang gagal melalui jalur diplomatik. Iran bahkan menyampaikan kepada mediator Pakistan bahwa blokade laut AS yang terus berlangsung di Laut Arab dan Teluk Oman setelah gencatan senjata makin mempertebal rasa tidak percaya Teheran. Trump sendiri menyebut gencatan senjata ini berada dalam "kondisi kritis" dan mengakui sedang mempertimbangkan serangan baru.

Sebagai konteks: serangan AS dan Israel ke Iran dimulai 28 Februari 2026, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Semenanjung Arab, Israel, serta pasukan AS yang tersebar di Timur Tengah. Gencatan senjata diumumkan 7 April, tapi blokade pelabuhan Iran tetap diberlakukan Washington, sementara Teheran memberlakukan aturan transit khusus di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan agar tidak ada serangan susulan, sembari menilai langkah itu tidak akan efektif. Entah didengar atau tidak, Trump sudah bicara di Truth Social soal "penghancuran militer Iran" sebagai salah satu pencapaian 16 bulan pemerintahannya, dengan kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung: "bersambung!"

Dua hari, kata Trump, cukup untuk melumpuhkan seluruh infrastruktur Iran. Pertanyaannya, apakah Washington benar-benar mau membayar tagihan berikutnya, kalau tagihan yang sekarang saja sudah bikin Kongres panas?