SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  TPMA Tebar Dividen Rp42/Saham saat Laba Kuartal I...

Finansial

TPMA Tebar Dividen Rp42/Saham saat Laba Kuartal I Ambles 87%

PT Trans Power Marine Tbk tetap membagikan dividen tunai Rp146,85 miliar meski laba bersih kuartal I-2026 amblas drastis akibat hambatan persetujuan RKAB dan tekanan biaya BBM.

Trans Power Marine Tebar Dividen Tunai Rp42 per Saham

Laba bersih PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) tinggal US$ 776.479 di kuartal I-2026, jeblok dari US$ 5,79 juta pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan hampir 87% itu bukan sekadar koreksi biasa.

Yang bikin situasi ini menarik: manajemen tetap melanjutkan pembagian dividen tunai senilai Rp42 per saham, total Rp146,85 miliar, setara 47,5 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini direstui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Dua biang kerok di balik lesunya kinerja awal tahun sudah cukup jelas. Pertama, persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah yang molor, sehingga para penambang selaku klien utama TPMA praktis terhenti sementara. Kedua, lonjakan harga BBM yang menggerus margin operasional saat freight rate justru sedang melemah. Kombinasi keduanya bak gunting yang memotong dari dua sisi sekaligus.

Direktur TPMA Rudi Sutiono membenarkan bahwa RKAB menjadi hambatan utama di awal tahun. Agaknya ada titik terang: sebagian besar penambang sudah mengantongi persetujuan itu pada penghujung kuartal pertama dan awal kuartal kedua, yang artinya efeknya mulai terasa di Q2.

Pendapatan perseroan, menariknya, relatif bertahan. Angkanya turun tipis 0,41 persen secara tahunan menjadi US$ 26,37 juta dari sebelumnya US$ 26,48 juta. Tidak kolaps. Artinya masalah utama bukan di sisi permintaan, melainkan di struktur biaya dan timing regulasi, dua hal yang, setidaknya secara teori, bisa dibenahi.

Direktur Utama Ronny Kurniawan tidak menutup-nutupi gambaran tahun penuh. Ia menyebut laba bersih konsolidasi 2025 hampir US$ 20 juta, turun sekitar 30 persen dari 2024. Untuk 2026, target manajemen adalah menjaga penurunan tidak lebih dari 20 persen, setidaknya itu klaim manajemen, dan tekanan di kuartal pertama yang terbilang berat membuat angka itu masih perlu dibuktikan.

Strategi yang diambil pun konservatif: jaga arus kas, tekan rasio utang, efisiensi bunga pinjaman. Tidak ada rencana pembelian armada baru sepanjang 2026. Perseroan dijadwalkan menerima 7 unit kapal tunda dan 9 unit tongkang dari pesanan tahun-tahun sebelumnya, dengan total belanja modal US$ 25 juta. Tambahan armada inilah yang diharapkan mendongkrak utilisasi operasional.

RUPST juga menyetujui satu perubahan di jajaran manajemen: pengangkatan Patricia Pratiwi Suwati Prasatya sebagai Wakil Direktur Utama, mendampingi Daniel Wardojo yang sebelumnya menjabat di posisi tersebut.

Bagi pemegang saham TPMA, dividen Rp42 per saham mungkin jadi penghibur sementara. Pertanyaannya, apakah pemulihan Q2 cukup kencang untuk mengimbangi kerusakan di Q1?