Pemegang saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang belum masuk sebelum cum date, catat ini: 25 Mei 2026 adalah batas terakhir untuk berhak atas dividen final yang nilainya tidak kecil.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) TPIA pada 13 Mei 2026 resmi mengesahkan pembagian dividen tunai sebesar USD 30 juta, setara Rp6,07341 per saham. Ini adalah dividen final dari total alokasi dividen tahun buku 2025 sebesar USD 50 juta, karena USD 20 juta sudah lebih dulu dicairkan sebagai dividen interim pada November 2025 lalu.
Angka laba bersih 2025 yang menjadi dasar pembagian ini terbilang jumbo: USD 1,09 miliar. Total ekuitas perseroan tercatat USD 4,66 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya masih USD 1,71 miliar. Ruang untuk aksi korporasi berikutnya masih lapang, kalau data ini bisa dipercaya.
Bagi investor yang ingin kebagian, wajib tercatat dalam daftar pemegang saham pada 29 Mei 2026 pukul 16.00 WIB sebagai recording date. Untuk pasar reguler dan pasar negosiasi, cum dividen jatuh 25 Mei, ex dividen 26 Mei. Pasar tunai menetapkan cum dividen 29 Mei dan ex dividen 2 Juni 2026. Pembayaran dijadwalkan 17 Juni 2026.
Aksi bagi dividen ini datang berbarengan dengan kinerja kuartal pertama 2026 yang, jujur saja, di luar ekspektasi banyak analis. Sepanjang Januari-Maret 2026, TPIA membukukan laba bersih USD 146,13 juta atau setara Rp2,47 triliun, membalikkan posisi rugi bersih di periode yang sama tahun sebelumnya. Total pendapatan kuartal I/2026 meledak ke USD 2,40 miliar, melompat 284,4% year on year dari USD 662,09 juta. Bukan main.
Mesin pertumbuhannya jelas. Penjualan energi ke pasar ekspor yang pada kuartal I/2025 nihil, di tahun ini langsung menyumbang USD 1,45 miliar. Penjualan kimia ke luar negeri ikut melesat 180,9% YoY menjadi USD 548,13 juta. Segmen infrastruktur domestik pun tidak ketinggalan, naik 120,2% YoY ke USD 59,29 juta. Sisi domestik kimia memang tertekan, terkoreksi 14,8% YoY, tapi dampaknya tertutup rapi oleh ekspansi ekspor yang masif.
Beban operasional ikut terkerek tajam. Bahan baku dan beban produksi melonjak 215,8% YoY menjadi USD 1,87 miliar, beban penyusutan naik 239,2% YoY seiring aset baru yang masuk neraca. Agaknya bukan kebetulan bahwa keuntungan kurs senilai USD 8,91 juta, yang melesat 406,3% YoY karena pelemahan rupiah, turut menopang laba bersih di tengah tekanan beban itu.
Pertanyaannya: apakah kinerja kuartal pertama ini bisa dipertahankan, atau sekadar efek base yang rendah dari tahun sebelumnya? Dengan diversifikasi pendapatan yang kian berat ke ekspor dan komitmen dividen yang terjaga, TPIA agaknya sedang membuktikan bahwa transformasi bisnisnya bukan sekadar cerita di atas kertas.