SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Topan Bavi Terjang Asia Timur, 15 Tewas dan Ribuan...

Internasional

Topan Bavi Terjang Asia Timur, 15 Tewas dan Ribuan Dievakuasi

Topan Bavi menyapu jalur dari Filipina ke Jepang, menewaskan 15 orang akibat tanah longsor di Mindanao, sementara Taiwan dan China berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi puluhan ribu warga.

Topan Bavi Menerjang, 15 Tewas dan Belasan Ribu Orang Dievakuasi

Lima belas orang sudah tewas, dan Topan Bavi belum selesai bergerak. Badai yang disebut topan terbesar dalam lebih dari tiga dekade ini menyapu jalur panjang dari Guam melewati Filipina, Taiwan, Jepang, dan bergerak lurus menuju pesisir China, meninggalkan jejak kehancuran di setiap titik singgahnya.

Di Filipina, dampaknya paling fatal. Bavi yang dikenal lokal sebagai topan Inday memicu tanah longsor mematikan di Malapatan, Provinsi Sarangani, Pulau Mindanao, menewaskan 10 orang. Lima korban lainnya ditemukan tewas dalam longsor terpisah di Provinsi Lanao del Sur, Filipina selatan. Ironi kecilnya: saat memasuki Filipina, Bavi sudah diturunkan statusnya dari super topan menjadi topan biasa. "Biasa" ternyata cukup untuk mengubur orang hidup-hidup di bawah lumpur. Wali Kota Malapatan Salway Sumbo Jr mengatakan sebagian warga desa terpaksa dievakuasi karena hujan lebat tak kunjung reda di seluruh wilayah. PAGASA, badan cuaca Filipina, mengingatkan bahwa ekor topan masih berpotensi membawa banjir meluas, termasuk ke ibu kota Manila.

Sabtu (11/7/2026), giliran Jepang yang dihajar. Bavi menghantam Pulau Sakishima di barat daya Okinawa dengan angin hingga 162 km/jam. Puing-puing bertebaran di jalan-jalan Ishigaki yang lengang, perahu-perahu di pelabuhan limbung diterpa arus, penerbangan dan feri lumpuh total sepanjang hari. Japan Airlines membatalkan lebih dari 100 penerbangan yang berdampak pada hampir 20.000 penumpang. All Nippon Airways menyusul dengan lebih dari 160 pembatalan hingga Minggu, mengganggu perjalanan setidaknya 20.000 orang lagi. Hampir 900 bangunan di Prefektur Okinawa gelap tanpa listrik.

Di Ishigaki, Hiroshi Nomura sempat berbagi kekhawatirannya saat memasang jaring penahan angin di toko penyewaan sepedanya. "Saya sedikit khawatir apakah persiapan kami sudah cukup," ujarnya. Kalimat sederhana, tapi agaknya mewakili perasaan jutaan orang di sepanjang jalur badai ini.

Taiwan menjadi titik yang paling diwaspadai. Badan Meteorologi Pusat Taiwan (CWA) mencatat kecepatan angin maksimum Bavi mencapai 155 km/jam saat melintas, dengan embusan sesekali menembus 190 km/jam. Radius badai membentang hingga 380 kilometer. Angka itu menjadikan Bavi topan terbesar yang mendekati Taiwan dalam lebih dari 30 tahun. Beberapa kawasan bisa menerima curah hujan kumulatif hingga satu meter, cukup untuk bikin otoritas setempat pusing soal banjir bandang dan longsor di kawasan pegunungan.

Sembilan ribu orang dievakuasi, lebih dari separuhnya dari kawasan pegunungan Hualien di timur. Dua bendungan di wilayah itu masuk dalam pemantauan ketat. Gelombang laut setinggi 9 meter membuat seluruh pantai dinyatakan terlarang. Lebih dari 28.000 tentara disiagakan. Pasar keuangan Taiwan tutup Jumat. Bandara internasional Taoyuan menghentikan seluruh penerbangan Sabtu.

Presiden Lai Ching-te, lewat unggahan di Facebook, menulis bahwa meski Bavi sudah sedikit melemah, radius badainya yang luar biasa besar masih berpotensi membawa kerusakan ke banyak daerah. Ia mendesak warga di kawasan terdampak untuk tetap dalam siaga tinggi.

Cina menjadi tujuan akhir. Bavi diperkirakan mendarat di selatan Shanghai, dekat perbatasan Provinsi Fujian dan Zhejiang, pada Sabtu malam atau Minggu pagi. Lebih dari 17.000 warga Zhejiang sudah dipindahkan. Xinhua melaporkan 170.000 petugas penyelamat disiagakan. Berat beban ini berlipat karena Cina belum pulih dari badai tropis Maysak yang baru saja menewaskan 39 orang, menjebol sebagian bendungan di Hengzhou, dan merendam sebagian wilayah Guangxi selama berhari-hari.

Ada konteks yang lebih besar di balik rentetan bencana ini. Layanan Kelautan Copernicus Uni Eropa menyatakan bahwa Juni 2026 mencatat suhu lautan terpanas dalam sejarah, dan rekor itu bisa dilampaui lagi dalam bulan-bulan mendatang. Lautan yang lebih hangat menjadi bahan bakar bagi badai tropis untuk tumbuh lebih cepat dan lebih ganas. El Nino yang kembali tahun ini menambah tekanan, menghangatkan permukaan Pasifik dan memperkuat kondisi yang melahirkan badai-badai seperti Bavi. Entah kebetulan atau tidak, Asia Timur sedang menghadapi musim topan yang bisa jadi paling brutal dalam satu generasi.