Cakupan wilayahnya hampir seluas Prancis. Selama tiga hari terakhir, Topan Bavi membuktikan kenapa ia layak disebut topan terkuat yang melanda China sepanjang 2026 ini.
Badai ini menerjang Provinsi Zhejiang, China bagian timur, pada Sabtu (11/7/2026) tengah malam, setelah sebelumnya menyapu Kepulauan Mariana Utara, Guam, Filipina, dan melintas di utara Taiwan. Minggu pagi, statusnya turun menjadi badai tropis yang kuat, dengan kecepatan angin sekitar 101 kilometer per jam. Melemah, tapi jangan terlalu cepat lega.
"Bahkan jika badai melemah setelah mendarat, sirkulasinya yang besar dapat terus menghasilkan cuaca yang merusak hingga ratusan kilometer," ujar Benjamin Horton, Dekan Sekolah Energi dan Lingkungan di Universitas Kota Hong Kong. Wilayah di dekat jalur Bavi, kata Horton, berpotensi menerima curah hujan beberapa ratus milimeter hanya dalam beberapa hari. Artinya: risiko banjir, tanah longsor, dan genangan perkotaan masih nyata.
Angka evakuasinya mencengangkan. China memindahkan lebih dari 2,6 juta orang, dengan Zhejiang menyumbang sekitar 2,2 juta di antaranya. Shanghai merelokasi lebih dari 290.000 warga, Fujian 180.000 lebih. Di kota pesisir Yueqing, lebih dari 1.300 pohon tumbang, 700 di antaranya tercabut dari akarnya. Tim darurat menyisir jalan dengan ekskavator dan gergaji mesin.
Gangguan transportasi? Masif. Di Hangzhou, ibu kota Zhejiang, dua stasiun kereta api utama menghentikan seluruh layanan. Bandara Internasional Xiaoshan membatalkan 327 penerbangan. Di Shanghai, Bandara Pudong dan Hongqiao gabungan membatalkan 684 penerbangan, ditambah 1.620 perjalanan kereta api yang ditangguhkan.
Lin Yongjin, warga Kanmen berusia 72 tahun yang tokonya menghadap laut, merasakan langsung. Kanopi pintu masuk runtuh, air hujan membanjiri rumah, kerugian mencapai lebih dari 6.000 yuan, setara sekitar Rp 16 juta. "Ini adalah topan yang sangat kuat. Topan itu mendarat tepat di sini, di Kanmen. Kami berada tepat di jalurnya," katanya.
Taiwan tidak keluar tanpa luka, meski tidak dilintasi langsung. Topan Bavi melintas di bagian utara pulau itu pada Sabtu, membawa gelombang tinggi dan hujan yang luar biasa deras. Curah hujan kumulatif mencapai 770,5 milimeter di Kabupaten Miaoli, 743 mm di Hsinchu, 608 mm di Taichung. Badan Pemadam Kebakaran Nasional Taiwan mencatat setidaknya 134 orang terluka, sebagian besar akibat terjatuh dari kendaraan atau terpeleset di jalan licin. Kebanyakan sudah dipulangkan. Badan Meteorologi Pusat (CWA) Taiwan mencabut peringatan darat pada pukul 05.30 Minggu pagi, peringatan laut menyusul pada 08.30, setelah badai dinyatakan melemah dan radius sirkulasinya menyusut.
Di Filipina, dampaknya paling fatal: sedikitnya 17 orang tewas akibat tanah longsor yang dipicu badai.
Lintas kawasan, jadwal penerbangan dihajar habis selama tiga hari. Japan Airlines membatalkan 48 penerbangan pada 10 Juli, berdampak pada sekitar 7.600 penumpang di rute Okinawa, Ishigaki, dan Miyako. All Nippon Airways menutup seluruh penerbangan dari dan ke Bandara Miyako dan Painushima Ishigaki. Singapore Airlines bersama anak usahanya Scoot membatalkan minimal 20 penerbangan pada 11-12 Juli untuk rute Taipei, Tokyo, Seoul, dan Sapporo. Cathay Pacific, HK Express, Hong Kong Airlines, dan Greater Bay Airlines menangguhkan lebih dari 40 penerbangan, dengan rute terdampak mencakup Taipei, Okinawa, Ishigaki, dan Zhoushan. Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Taiwan turut mencatat pembatalan massal dari maskapai masing-masing, mulai Thai Airways, Malaysia Airlines, hingga Vietjet Air.
Konteks ilmiahnya agaknya tidak bisa diabaikan. Para ilmuwan sudah memperingatkan bahwa El Nino yang muncul pada 2026 berpotensi menggeser jalur topan lebih ke barat, lebih dekat ke pesisir China. Penguatan badai yang berlangsung sangat cepat, kata Horton, mempersempit waktu persiapan bagi masyarakat dan petugas darurat. Pertanyaannya, berapa lama pola ini akan terus berulang?
Pusat Meteorologi Nasional China memproyeksikan badai bergerak ke arah barat laut, dengan hujan berkepanjangan yang bakal mengguyur China timur dan utara dalam beberapa hari ke depan. Bagi jutaan orang yang baru saja melalui malam paling panjang tahun ini, itu bukan kabar yang menyenangkan.