MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Topan Bavi Luluhlantakkan Asia Pasifik, Hampir 2 J...

Internasional

Topan Bavi Luluhlantakkan Asia Pasifik, Hampir 2 Juta Warga China Dievakuasi

Topan Bavi, yang sempat menjadi topan super berkecepatan 290 km/jam saat menghantam Guam, akhirnya mendarat di pesisir Zhejiang dan memaksa hampir dua juta warga China mengungsi dalam hitungan jam.

China Dihantam Topan Kedua dalam Sepekan, Hampir 2 Juta Warga Dievakuasi

Topan Bavi menorehkan jalur kehancuran sepanjang kawasan Asia Pasifik selama sepekan penuh, dari Kepulauan Mariana hingga daratan China, dengan total korban jiwa lintas negara yang terus bertambah dan evakuasi massal yang menjadi salah satu terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Bavi bukan badai biasa. Siklon tropis ketiga pada 2026 yang mencapai intensitas Kategori 5 dalam skala Saffir-Simpson ini tumbuh cepat di atas perairan Pasifik dengan suhu permukaan laut sekitar 30 derajat Celsius, cukup untuk mengintensifkan diri sebelum berbelok ke Asia. Pada puncaknya di awal Juli, kecepatan anginnya menyentuh 290 km/jam saat menerjang Guam, Rota, dan Saipan: tiang listrik tumbang, jalan-jalan tergenang, stasiun distribusi air di Rota rusak parah. Kerusakan itu menumpuk di atas luka lama akibat Topan Super Sinlaku yang melintasi pulau-pulau tersebut pada pertengahan April.

Pada 8 Juli, saat masih bergerak ke barat di atas Laut Filipina, kecepatan angin Bavi masih bertahan di 250 km/jam sebelum perlahan melemah. Tapi ancamannya tidak melulu soal angin. Di Filipina, bukan hembusan Bavi yang membunuh, melainkan hujan lebatnya yang memperburuk monsun barat daya, memicu longsor mematikan pada Jumat malam. Setidaknya 17 orang tewas.

Jepang pun kena. Gugusan Kepulauan Sakishima di bawah administrasi Okinawa dihantam angin kencang sejak Jumat, memaksa pembatalan lebih dari 200 penerbangan di seluruh negeri. Lima orang terluka, ribuan kehilangan aliran listrik. Taiwan, meski tidak terkena hantaman langsung, tidak lolos begitu saja: sekitar 14.210 warga dievakuasi dari Taichung dan Hualien, 36 orang terluka, kebanyakan pengendara motor yang terpeleset di jalanan licin. Curah hujan yang diprediksi bisa menembus satu meter memaksa sekolah, kantor, dan sebagian besar restoran tutup. Rak-rak supermarket ludes dalam hitungan jam.

Puncak dramanya di China. Bavi mendarat pertama kali di Taizhou pada Sabtu malam, lalu menyentuh daratan untuk kedua kalinya di Wenzhou sekitar tengah malam, membawa bentangan badai selebar 1.000 kilometer. Sudah melemah ke Kategori 1 dengan kecepatan angin 144 km/jam, memang. Tapi volume uap air dalam pita hujannya tetap menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap enteng. Badan cuaca China mengeluarkan peringatan topan oranye, level tertinggi kedua dalam sistem empat tingkat mereka.

1,7 juta jiwa. Itulah jumlah pengungsi di Provinsi Zhejiang saja, belum ditambah ribuan warga di perbatasan provinsi tetangga. Sekolah, kantor, seluruh agenda luar ruangan di Zhejiang dihentikan total. Lebih dari 400 penerbangan domestik dan internasional dibatalkan, puluhan rute kereta cepat ditangguhkan. Di Ningde, Provinsi Fujian, lebih dari 3.700 warga dievakuasi dan 17.000 petugas penyelamat darurat disiagakan.

Wenzhou, kota dengan 10 juta jiwa yang berada persis di jalur lintasan Bavi, berstatus waspada tinggi. Huang Xinghuan, warga Wenzhou berusia 50 tahun, terlihat tenang saat berbelanja di pasar tradisional sebelum pasar tutup menjelang badai. "Saya sedikit khawatir, tapi saya pikir semuanya akan baik-baik saja," katanya kepada Reuters. Keluarganya sudah menimbun air untuk dua sampai tiga hari. "Kami sudah pernah mengalami badai sebelumnya. Kami akan melewatinya," tambah Huang. Bagi veteran badai seperti dia, ini bukan yang pertama, dan agaknya bukan yang terakhir.

Bavi sendiri datang tidak sendirian. Topan Maysak sudah lebih dulu menerjang China selatan pekan sebelumnya, menewaskan setidaknya 39 orang, sebagian besar di Nanning akibat bendungan yang jebol. Maysak juga memicu dua tornado langka di Provinsi Hubei, melumat ternak dalam jumlah besar, meninggalkan kerugian pertanian yang belum terhitung. Dua topan dalam sepekan. Angka yang tidak main-main.

Ahli meteorologi Jeff Masters, menulis di Yale Climate Connections, mengingatkan bahwa Bavi adalah tipikal badai yang lahir saat El Niño kuat sedang terbentuk. Topan El Niño cenderung muncul lebih jauh ke timur, punya lebih banyak waktu di atas perairan hangat untuk menguat, sebelum akhirnya berbelok ke Asia. Pertanyaannya, berapa lama musim 2026 akan terus menghajar dengan pola seperti ini? Kalau data suhu laut ini bisa dipercaya, jawabannya tidak akan menenangkan siapa pun.