Serangan militer Amerika Serikat ke wilayah Iran terus menimbulkan efek domino, dan Jakarta tidak tinggal diam. Pemerintah Indonesia kini menyusun skenario evakuasi darurat bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang tersebar di kawasan Timur Tengah, seiring eskalasi yang agaknya belum menemukan titik redanya dalam waktu dekat.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, memastikan koordinasi sudah berjalan dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI di negara-negara terkait. "Prinsipnya pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi jika terjadi sesuatu yang luar biasa, termasuk evakuasi besar terhadap WNI yang ada di sana," ujar Mukhtarudin saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (17/7).
Langkah antisipatif itu bukan tanpa alasan. Rabu (15/7) malam, satu serangan AS dilaporkan menghantam area sekitar Rumah Sakit Shahid Baqaei di Kota Ahvaz, fasilitas rujukan khusus anak-anak penderita kanker. Sebanyak 211 pasien yang tengah menjalani kemoterapi terpaksa dievakuasi darurat. Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei menyebut insiden itu menyebabkan "penderitaan dan kecemasan parah" di antara pasien yang dirawat, seperti dikutip dari Anadolu. Klaim yang masih perlu diverifikasi secara independen, tapi cukup untuk memantik kecaman internasional.
Teheran tidak berdiam diri. Juru Bicara Militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, mengeluarkan peringatan keras bahwa Presiden AS Donald Trump akan menghadapi "tindakan yang tidak terduga" apabila Washington terus melanjutkan serangan yang dianggap melanggar MoU Islamabad, perjanjian yang diklaim mengakhiri konflik kedua negara sejak 28 Februari lalu. "Para pejabat AS akan menghadapi tantangan baru dan tak terduga dari militer Republik Islam Iran, baik dalam hal persenjataan maupun geografi perang, yang tidak pernah mereka bayangkan. Amerika Serikat harus berharap kejutan dari militer kami," kata Akraminia kepada kantor berita mahasiswa Iran, ISNA.
Bergerak dengan kalkulasinya sendiri, Israel tidak tinggal menonton. Mayor Jenderal Uzi Dayan, tokoh militer yang dikenal dekat dengan PM Benjamin Netanyahu, menyebut Israel tengah bersiap melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran. Dalam wawancara televisi yang dikutip Middle East Monitor, Dayan menegaskan bahwa Israel berada dalam "perang demi eksistensinya" dan tidak bisa sepenuhnya bersandar pada Washington menghadapi ancaman nuklir Teheran. Pernyataan semacam ini bukan retorika kosong. Ia membuka perdebatan serius di Tel Aviv soal apakah Israel akan melancarkan aksi militer independen jika AS dianggap tidak cukup tegas.
Skenario itu bertambah pelik dengan laporan bahwa AS dan Israel mempertimbangkan blokade darat terhadap Iran, opsi yang konon dibahas dalam pertemuan Trump dan Netanyahu di Ruang Oval. Blokade mengandalkan keterlibatan negara-negara tetangga Iran untuk menutup jalur perbatasan, tapi Pakistan dan Irak disebut kemungkinan besar tidak akan bersedia ikut. Kalau pun ada yang bergabung, mereka berpotensi menanggung konsekuensi ekonomi dan keamanan jika Teheran membalas. Tidak murah, tidak mudah.
Bagi Indonesia, semua ini bukan drama geopolitik yang bisa ditonton dari kejauhan. Ratusan ribu PMI tersebar di negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Abu Dhabi, yang kini masuk radar waspada pemerintah menyusul peringatan otoritas setempat. Eskalasi ini terjadi persis ketika arus pengiriman PMI ke Timur Tengah sedang dalam sorotan publik, satu ironi yang sulit diabaikan.
Pertanyaan yang belum terjawab: seberapa cepat skenario evakuasi itu bisa dieksekusi jika konflik benar-benar meletus lebih lebar dari yang diperhitungkan sekarang?