Tiga rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, pekan lalu. Jebol. Bukan sekadar lolos dari pantauan, tapi benar-benar menghantam barak prefabrikasi yang menampung prajurit Amerika. The Wall Street Journal melaporkan detail itu Senin kemarin, dan gambaran yang muncul cukup untuk bikin Washington gelisah.
CENTCOM mengonfirmasi dua prajurit AS tewas, satu lainnya hilang. Jenazah korban ketiga kemudian ditemukan di pangkalan, identitasnya masih dalam proses pemeriksaan. Total, sedikitnya 17 tentara AS sudah gugur sejak konflik ini meletus hampir lima bulan silam. Bukan angka kecil untuk perang yang oleh sebagian pihak masih diperdebatkan skalanya.
Trump merespons dengan nada yang sudah akrab: Iran akan menanggung akibatnya "berkali-kali lipat". Presiden AS itu dilaporkan sedang menimbang opsi melancarkan "perang yang lebih luas" melawan Teheran, seiring makin banyaknya pesawat tempur Amerika yang dikerahkan ke kawasan. Retorika yang keras, memang. Tapi ada masalah di balik semua itu.
Seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal pemerintahan mengungkapkan bahwa rencana eskalasi tersebut terbentur kenyataan pahit: stok pertahanan udara dan amunisi jarak jauh mulai menipis. Operasi apa pun, kata pejabat itu, akan dibatasi oleh keterbatasan tersebut. Ironis bak pedang bermata dua, saat Washington mempertimbangkan perang lebih besar, kapasitas tempurnya justru bisa menjadi rem paling keras.
Pertanyaannya, seberapa lama gertakan ini bisa menahan laju eskalasi?
IRGC tidak menunggu jawaban. Korps Garda Revolusi Islam memperluas jangkauan serangannya ke Bahrain, menghantam dua sistem pertahanan udara dan instalasi radar di dua pos terdepan AS yang berbeda. Kuwait pun kena giliran: sistem pertahanan rudal, radar, dan penerimaan satelit jadi sasaran. Pesan dari IRGC tidak bisa lebih terang: "Dengan sapuan radar ini, musuh harus bersiap untuk gelombang serangan drone dan rudal yang lebih menentukan dan kuat."
Garda Revolusi juga mengeluarkan pernyataan bersumpah memberi AS "pelajaran tak terlupakan", menyebut komitmen mereka mematuhi arahan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei dalam membela kedaulatan Iran. Pernyataan itu, kalau data persenjataan Iran bisa dipercaya, agaknya bukan gertakan kosong. Stok rudal balistik dan drone Teheran masih jauh dari terkuras.
Yang memperberat situasi, laporan New York Times menyebut Pentagon menutup rapat informasi soal puluhan prajurit AS yang terluka akibat rentetan serangan Iran di pangkalan-pangkalan kawasan Teluk. NYT, mengutip sejumlah pejabat anonim, melaporkan bahwa serangan rudal balistik Iran tidak hanya menelan korban jiwa, tapi juga merusak sejumlah helikopter. Setidaknya itu klaim sumber-sumber itu. Kalau angkanya benar, gambaran publik soal skala kerusakan selama ini bisa jadi jauh lebih kempis dari kenyataan di lapangan.
Konflik ini sudah bergerak melewati titik di mana pertanyaannya adalah soal apakah eskalasi akan datang. Sekarang yang relevan: seberapa jauh AS sanggup melangkah dengan amunisi yang makin terkuras, sementara Iran justru tampak semakin percaya diri menguji celah-celah pertahanan Amerika satu per satu.