Tiga platform lepas pantai di ladang gas South Pars sudah kembali ke siklus produksi, menandai babak baru dalam upaya Iran memulihkan infrastruktur energinya yang porak-poranda sejak konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel meletus pada akhir Februari lalu.
CEO Pars Oil and Gas Company, Touraj Dehqani, mengonfirmasi bahwa ketiga anjungan itu tidak mengalami kerusakan struktural selama serangan berlangsung. Masalahnya bukan di laut, melainkan di darat. Fasilitas penerima dan pengolahan gas di wilayah Assaluyeh yang jadi korban. Tanpa fasilitas penerima itu, gas dari lepas pantai tidak bisa ke mana-mana, dan produksi terpaksa disetop.
Setelah perbaikan intensif rampung, gas kini kembali mengalir. "Sejauh ini, tiga platform lepas pantai South Pars telah kembali ke siklus produksi," kata Dehqani. "Pemulihan produksi gas yang melimpah dan kapasitas pengolahan di ladang bersama ini berjalan dengan baik," tambahnya, seraya menyebut keberhasilan itu ditopang kemampuan teknis para spesialis perminyakan Iran, manajemen produksi terpadu, dan penggunaan maksimal kapasitas yang ada.
South Pars bukan ladang gas biasa. Seluas 9.700 kilometer persegi di lepas pantai Provinsi Bushehr, ia adalah ladang gas alam terbesar di dunia, dibagi bersama Qatar yang menyebutnya North Field di sisinya. Tulang punggung pasokan energi nasional Iran. Serangan terhadap fasilitas ini, termasuk kompleks Petrokimia South Pars di Assaluyeh yang dihantam awal April, menyentuh jantung ekonomi Teheran.
Kronologi konfliknya kelam. Perang pecah 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat senior. Infrastruktur strategis Iran lalu dihajar beruntun. Iran membalas dengan rudal dan drone yang menyasar aset-aset AS di kawasan serta sejumlah target di Israel. Gencatan senjata mulai berlaku 8 April, meski situasi kawasan dinilai masih rapuh.
Pemulihan South Pars ini, bisa jadi, cara Teheran mengirimkan pesan. "Iran mencoba mengirimkan pesan bahwa mereka sedang berusaha membangun kembali fasilitas yang menjadi sasaran," kata jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi. "Ketika kita berbicara tentang South Pars, kita berbicara tentang salah satu fasilitas energi terpenting di negara ini."
Pertanyaannya, seberapa jauh sinyal ini bisa dibaca pasar?
Di Selat Hormuz, blokade angkatan laut yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap seluruh pelabuhan komersial Iran masih berjalan penuh. Ini bagian dari strategi tekanan ekonomi maksimum Washington untuk memaksa Teheran menerima draf kesepakatan damai. Negosiasi tidak resmi antara dua pihak memang masih bergulir, tapi kepala negosiator Iran sudah menegaskan posisinya: tidak ada satu pun poin kesepakatan yang akan ditandatangani kecuali ada jaminan tertulis atas pemulihan hak penuh Iran, termasuk pencabutan sanksi ekonomi global.
Proses perbaikan di fasilitas yang masih rusak agaknya akan menentukan seberapa cepat kapasitas produksi bisa kembali ke level sebelum perang. Angka itu yang sedang ditunggu pasar energi global, kalau data lapangan bisa dipercaya sepenuhnya.