Tiga fasilitas kesehatan ebola diserang massa dalam tujuh hari terakhir di Kongo timur. Jumlah kasus terkonfirmasi di negara itu sudah menyentuh 904, nyaris menembus angka 1.000 jika dihitung bersama kasus di negara-negara sekitarnya.
Serangan terbaru menghantam RS Monbgwalu pada Minggu (24/5/2026) malam. Direktur layanan rumah sakit, Richard Lokudu, menyebut warga menyerbu fasilitas itu lantaran menuntut jenazah dua kerabat mereka diserahkan. Protokol ebola melarang keras pemakaman oleh keluarga karena risiko penularan yang ekstrem, tapi kerumunan tidak mau tahu. "RS Monbgwalu dalam kondisi waspada," ujar Lokudu, seraya menyebut ada suara tembakan terdengar di sekitar lokasi.
Tak sampai sehari sebelum serangan ke RS itu, lokasi isolasi sementara yang dikelola Dokter Lintas Batas (MSF) di kota yang sama juga diserbu. Saat kejadian, 18 orang tengah diisolasi di sana. Semuanya kabur. Padahal mereka menunjukkan gejala ebola. Ke mana mereka pergi, belum ada yang tahu.
Sepekan sebelumnya, giliran pusat perawatan di Rwampara yang dibakar massa. Alasannya identik: warga berang karena dilarang mengambil jenazah kerabat. Pola ini berulang dengan dalih yang sama. Bukan sekadar ketidaktahuan, ini resistensi yang terorganisir dan berbahaya, dan semakin sulit dilawan.
Kongo timur memang bukan medan yang mudah. Provinsi Ituri, tempat wabah kali ini pertama terdata, terbelah antara wilayah yang dikuasai pemerintah dan kelompok separatis M23 yang disebut-sebut disokong Rwanda. Di Provinsi Kivu Selatan dan Kivu Utara, situasinya serupa. Milisi bersenjata kerap menyerang pusat kesehatan, sukarelawan diculik, dan lebih dari satu juta orang sudah mengungsi di Ituri saja akibat perang saudara.
Stok obat dan alat pelindung diri menipis. ICRC menyebut keterbatasan APD kemungkinan besar jadi pemicu sebagian sukarelawan palang merah tertular ebola, beberapa di antaranya tewas. Thomas McHale dari Dokter untuk HAM (PHR) mengingatkan bahwa krisis ini kian diperparah oleh pemangkasan bantuan kesehatan ke Afrika yang makin masif.
Wabah kali ini bukan ebola biasa. Virus yang menyebar dipicu galur Bundibugyo, galur yang amat jarang dan hingga kini belum ada vaksinnya. Tingkat fatalitas ebola secara umum berkisar 50 persen hingga 90 persen. Angka yang membuat COVID-19 tampak jauh lebih jinak dalam perbandingan kematian per kasus.
WHO sudah menetapkan situasi ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), darurat kesehatan global. CDC Afrika menyatakan 10 negara berada dalam status risiko sangat tinggi: Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Zambia, semuanya berbatasan langsung dengan Kongo.
Indonesia pun mulai masuk radar. Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) mendesak pemerintah untuk tidak menunggu kasus masuk dulu baru bergerak. "Status PHEIC bukan sekadar label, melainkan peringatan bahwa ebola memiliki risiko tinggi berkembang menjadi krisis kesehatan global seperti COVID-19. Indonesia harus bersiap dengan langkah preventif, bukan reaktif," kata Mustakim, Project Manager Community-based Surveillance RUKKI.
Soal angka korban, ada selisih yang cukup mencolok antara versi resmi dan sumber lain. Kemenkes Kongo mencatat 119 kematian, tapi sejumlah sumber menyebut angka sebenarnya sudah di kisaran 220. Lebih dari seratus nyawa selisihnya. Klaim yang belum bisa dikonfirmasi, tapi sulit diabaikan begitu saja mengingat sulitnya akses ke wilayah konflik.
Di gereja-gereja Kongo timur, sebagian pemimpin jemaat malah mengimbau warga untuk tidak khawatir. Cukup beribadah. Entah kebetulan atau tidak, sikap itu muncul tepat di saat 18 orang bergejala ebola hilang entah ke mana di kota yang sama.