Senin itu bukan sesi biasa untuk saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Tiga broker asing masuk serentak dengan posisi beli jumbo, dan kalau dicermati lebih dalam, ada konteks korporasi yang agaknya menjelaskan kenapa mereka bergerak kompak dalam satu hari.
Data perdagangan 10 Agustus 2026 mencatat investor asing mencetak beli bersih sekitar Rp105,3 miliar di DSSA dalam satu sesi. J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) paling agresif, memborong sekitar 837,9 ribu lot senilai Rp86,6 miliar, dengan harga rata-rata Rp1.034 per saham. Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) menyusul, membeli 250,6 ribu lot senilai Rp25,6 miliar di harga rata-rata Rp1.020 per saham.
Akumulasi itu tidak terjadi di ruang hampa. Pada hari yang sama, emiten Grup Sinar Mas ini mengumumkan dimulainya pengalihan saham hasil buyback. Sebanyak-banyaknya 9,6 miliar saham treasuri, setara 5% dari seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, mulai dialihkan per 10 Agustus 2026. Sinarmas Sekuritas ditunjuk sebagai broker pelaksana.
Masif. Per akhir Juli 2026, total saham treasuri DSSA mencapai 37,9 miliar saham, angka yang jauh dari kategori "remeh".
Bersamaan dengan itu, DSSA memanggil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk 10 September 2026. Mata acara pertama cukup krusial: persetujuan pengurangan modal melalui penarikan kembali saham hasil buyback, mengacu pada POJK No. 29/2023. Regulasi itu mewajibkan emiten mengalihkan saham treasuri dalam tiga tahun setelah pembelian kembali selesai, dan salah satu jalur yang dibolehkan adalah pengurangan modal.
Mata acara kedua menyangkut perubahan susunan dewan komisaris dan direksi perseroan. Belum ada nama yang diusulkan, tapi perombakan jajaran pengurus bersamaan dengan aksi korporasi sebesar ini jarang bisa diabaikan begitu saja oleh pemegang saham yang jeli.
Bagi yang mencermati DSSA dari pinggir lapangan, kombinasi antara akumulasi asing yang masif dan rencana pengurangan modal ini menarik perhatian. Bisa jadi karena saham treasuri yang ditarik otomatis mempersempit jumlah saham beredar, yang secara teori bisa mendongkrak nilai per lembar yang tersisa. Pertanyaannya, berapa lama efek ini bertahan setelah RUPSLB kelar? Entah kebetulan atau tidak, J.P. Morgan dan Maybank agaknya sudah selesai menghitung lebih dulu.