Sepekan setelah Kementerian Dalam Negeri Thailand mengeluarkan instruksi penertiban wisatawan asing bermasalah, seorang turis pria asal China berusia 30 tahun langsung menjadi ujian pertama kebijakan itu. Hasilnya: blacklist permanen.
Kejadian bermula di bandara internasional Provinsi Samut Prakan, Thailand tengah, pada Rabu lalu. Pria itu gagal mengikuti instruksi sistem imigrasi otomatis di area gerbang keberangkatan. Alih-alih meminta bantuan petugas, ia memilih respons yang jauh lebih dramatis, eh, maksudnya: ia membanting dokumen perjalanannya, menendang dua pembatas kaca hingga rusak, lalu nekat memaksa masuk menuju pesawat yang seharusnya membawanya pulang ke China. Rekaman videonya menyebar di media sosial. Cukup untuk bikin viral dalam hitungan jam.
Petugas keamanan bandara menahan pelaku di lokasi. Dari situ, masalahnya berlipat.
Atas tuduhan perusakan properti, pria itu menghadapi denda maksimal 60.000 baht, setara sekitar Rp 32 juta, hukuman penjara hingga tiga tahun, atau keduanya sekaligus. Dakwaan diperberat dengan tuduhan melontarkan kata-kata kasar kepada petugas yang sedang bertugas, yang membawa risiko tambahan: denda 20.000 baht (sekitar Rp 10 juta) plus penjara hingga satu tahun. Total potensi hukumannya bukan angka kecil untuk sebuah insiden di bandara.
Otoritas imigrasi Thailand mencabut visanya dan memasukkan namanya ke daftar hitam permanen. Selama sisa hidupnya, Thailand tertutup baginya. Deportasi ke China dijadwalkan setelah seluruh proses hukum rampung.
Insiden ini terjadi dalam konteks yang agaknya tidak kebetulan. Keluhan soal perilaku wisatawan asing memang sedang menumpuk, terutama di Phuket dan Surat Thani. Pemerintah Thailand rupanya sudah cukup sabar.
"Wisatawan yang menunjukkan perilaku tidak pantas atau menyebabkan gangguan terhadap publik dan wisatawan lain harus dituntut secara tegas sesuai hukum, tanpa pengecualian," ujar Perdana Menteri Anutin Charnvirakul. Penindakan, ia tegaskan, juga menyasar pelancong yang melanggar nilai budaya lokal maupun yang terlibat penyalahgunaan narkoba.
Komandan Biro Imigrasi Panumas Bunyalak memilih nada lebih tenang, tapi pesannya sama kerasnya. "Thailand menyambut semua wisatawan dari semua negara yang menghormati rakyat Thailand dan Thailand," kata Panumas. Setiap tindakan yang dinilai melanggar moral dasar masyarakat, ia pastikan, berujung langsung pada pencabutan izin tinggal dan deportasi.
Bagi industri pariwisata Thailand, ini bukan sinyal yang ingin mereka kirimkan ke pasar global, tapi bisa jadi justru itulah maksudnya. Pertanyaannya, berapa lama kesabaran itu memang cukup untuk mengubah perilaku turis? Thailand memproyeksikan lebih dari 500.000 wisatawan asing tahun ini, naik dari 33 juta kunjungan pada 2025, meski ekonomi global masih bergulat dengan dampak konflik di Timur Tengah. Dengan angka sebesar itu, menjaga ketertiban bukan sekadar soal citra. Ini kalkulasi bisnis jangka panjang.
Buat wisatawan yang berencana ke Thailand: gerbang otomatisnya memang kadang rewel, tapi pilihan respons tetap ada di tangan masing-masing.