Kurang dari 24 jam. Dua insiden. Dua kapal. Dan kawasan Teluk Oman yang sekali lagi membuktikan dirinya bukan jalur laut biasa.
Kapal kargo kayu Haji Ali terbakar dan karam di perairan Teluk Oman pada Rabu dini hari, 13 Mei 2026, saat sedang menempuh rute dari Pelabuhan Berbera, Somaliland, menuju Sharjah di Uni Emirat Arab. Muatannya: ternak, menjelang musim haji. Badan intelijen maritim Vanguard menduga penyebabnya adalah serangan rudal atau drone. Keempat belas awak, semuanya warga negara India, berhasil diselamatkan oleh Penjaga Pantai Oman dan dievakuasi ke Pelabuhan Diba.
Data pelacakan menunjukkan Haji Ali berhenti mengirimkan sinyal pada 12 Mei di sebelah utara Muscat, sehari sebelum kapal dilaporkan tenggelam. Kapal itu sempat bersandar di Berbera pada 19 April, lalu bertolak lagi pada 6 Mei.
New Delhi bergerak cepat. "Semua 14 awak kapal diselamatkan oleh Penjaga Pantai Oman," kata Mukesh Mangal, Sekretaris Tambahan di Kementerian Perhubungan India. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Randhir Jaiswal menegaskan posisi India: "Serangan terhadap kapal komersial, awak kapal sipil, dan pembatasan navigasi harus dihindari." Siapa pelakunya? Sampai sekarang, tidak ada nama yang disebut.
Hampir bersamaan, sekitar 70 kilometer timur laut Fujairah, UEA, giliran kapal Hui Chuan yang kena masalah. Kapal berbendera Honduras yang dioperasikan Sinoguards Marine Security, perusahaan keamanan swasta berbasis di Hong Kong, digiring paksa oleh otoritas Iran. UKMTO mengonfirmasi kapal itu kini berada dalam kendali Teheran.
Hui Chuan bukan kapal biasa. Fungsinya sebagai floating armoury, gudang senjata terapung yang menyimpan senapan serbu, amunisi, rompi antipeluru, hingga helm militer untuk kebutuhan tim keamanan swasta pengawal kapal-kapal komersial di kawasan rawan bajak laut. Model bisnis seperti ini lahir dari ketatnya regulasi senjata di pelabuhan-pelabuhan Teluk, sehingga perusahaan keamanan memilih menyimpan logistik tempur mereka di lepas pantai.
Sinoguards membenarkan penyitaan itu. Otoritas Iran, menurut perusahaan, awalnya meminta dokumentasi resmi dan melakukan inspeksi kepatuhan sebelum akhirnya menggiring Hui Chuan masuk ke wilayah perairan mereka. CEO Sinoguards Mario Yun Zhou hanya memberikan pernyataan diplomatis melalui LinkedIn: "Sinoguards beroperasi di bawah otorisasi negara bendera yang berlaku dan persyaratan peraturan yang relevan dengan ruang lingkup operasionalnya." Tidak lebih dari itu.
Timingnya susah diabaikan. Penyitaan Hui Chuan terjadi tepat saat Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan puncak di Beijing pada Kamis (14/5/2026). Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin sepakat soal pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi arus energi global. Xi bahkan secara eksplisit menolak militerisasi di kawasan itu. Dan di saat yang nyaris bersamaan, kapal bersenjata milik perusahaan keamanan swasta China disita Iran. Entah kebetulan atau tidak.
Christopher Spearin, profesor studi pertahanan di Canadian Forces College, punya penjelasannya. "Iran mungkin merasa jengkel dengan apa yang direncanakan awak kapal tersebut secara spesifik, atau apa yang mungkin menginspirasi orang lain untuk mempertimbangkan hal tersebut," ujarnya. Ini penyitaan pertama terhadap kapal keamanan swasta sejak pecahnya konflik bersenjata antara AS dan Iran. Preseden yang tidak bisa dianggap enteng.
Bagi pelaku pasar, kalau data ini bisa dipercaya, dua insiden ini punya satu pesan yang sama: biaya asuransi maritim di kawasan Teluk hampir pasti akan terkerek naik. Sepertiga pasokan minyak mentah dunia melintas di jalur ini setiap harinya. Setiap eskalasi, sekecil apapun, punya efek domino ke harga energi global. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan berdampak, tapi seberapa dalam lukanya.