Negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali tergelincir ke zona abu-abu, masing-masing pihak berpegang pada posisi yang sulit dipertemukan dalam waktu dekat.
Trump menyatakan akan mengambil keputusan terkait proposal kesepakatan yang beredar. Respons Teheran? Jauh dari antusias. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan belum ada kesepahaman final yang tercapai antara kedua negara. Komunikasi masih berjalan, tapi Iran akan menilai setiap perkembangan dari tindakan nyata di lapangan, bukan retorika diplomatik Washington.
Pejabat senior Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mempertegas nada serupa: implementasi konkret, bukan janji, yang akan menjadi tolok ukur Teheran. Agaknya bukan posisi yang asal diambil. Iran sudah lebih dari sekali merasa ditipu janji politik yang tak berujung.
Yang kemudian membuat perundingan makin pelik adalah serangan Teheran ke Israel. Dalam konferensi pers yang disiarkan media pemerintah Iran, Baghaei secara terbuka menyebut Israel sebagai faktor utama mandeknya proses diplomasi kawasan. "Serangan terhadap Lebanon merupakan upaya untuk mencegah perbaikan situasi di kawasan," tegasnya. Operasi militer Israel yang terus berjalan di Lebanon, kata Baghaei, bukan hanya memperburuk keamanan regional, tapi secara aktif meruntuhkan peluang solusi politik yang lebih luas.
Washington pun kena semprot. "Setiap tindakan yang dilakukan Israel menjadi tanggung jawab Amerika Serikat karena mereka mendukungnya," ujar Baghaei. Klaim lama, tapi kali ini dilontarkan tepat saat negosiasi seharusnya membuka jendela peluang. Bukan pilihan kata yang kebetulan.
Situasi di lapangan memperumit segalanya. PM Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi pasukan Israel telah bergerak melampaui Sungai Litani di Lebanon selatan. Eskalasi nyata. Militer Israel juga melaporkan mencegat sejumlah proyektil dari arah Lebanon di wilayah utara, tanpa korban jiwa. Pada saat bersamaan, Departemen Pertahanan AS menyebut pembicaraan delegasi Israel-Lebanon di Washington berlangsung "konstruktif", sebuah framing yang terasa ganjil dibanding kondisi aktual di lapangan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kembali menegaskan komitmen Washington mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, sementara CENTCOM menyatakan patroli di kawasan tetap berjalan penuh. Dua pesan dikirim bersamaan: negosiasi ya, tekanan militer juga tetap jalan. Bak pedang bermata dua.
Baghaei menyoroti satu hal lagi. Pernyataan pejabat AS yang saling bertentangan, katanya, telah memperpanjang kebuntuan dan menciptakan ketidakpastian yang tak perlu. Konsistensi sikap politik menjadi prasyarat minimum sebelum Iran bisa menaruh kepercayaan pada proses yang sedang berjalan. Pertanyaannya, apakah Washington memang ingin konsisten, atau sedang memainkan tekanan dua sisi sekaligus?