SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  TBS Sawit Sumbar dan Kalbar Kompak Naik di Periode...

Finansial

TBS Sawit Sumbar dan Kalbar Kompak Naik di Periode II-Mei 2026

Dua sentra sawit besar mencatat kenaikan harga TBS periode II-Mei 2026. Sumatera Barat naik Rp18,41/kg menjadi Rp4.022,16/kg, sementara Kalimantan Barat naik Rp22,07/kg ke level Rp3.705,96/kg untuk pohon usia produktif 10-20 tahun.

Palm Oil News - Central Kalimantan FFB Price for First Period of August 2025 Rises by Rp139.85 per kg

Petani sawit di Sumatera Barat dan Kalimantan Barat punya alasan untuk sedikit lega pekan ini. Harga Tandan Buah Segar (TBS) di kedua provinsi penghasil utama itu sama-sama naik di periode II-Mei 2026, sinyal kecil yang bisa jadi pertanda pergerakan CPO global sedang membaik.

Tim penetapan harga Dinas Perkebunan Sumatera Barat menetapkan harga TBS untuk pohon usia 10-20 tahun naik Rp18,41/kg, menjadi Rp4.022,16/kg, berlaku untuk pembayaran 8-14 Mei 2026. Di Kalimantan Barat, kenaikannya sedikit lebih besar: Rp22,07/kg, dengan harga akhir Rp3.705,96/kg untuk kategori usia yang sama, berlaku 8-15 Mei 2026.

Selisih antara dua provinsi ini sekitar Rp316/kg. Agaknya ini mencerminkan perbedaan struktur biaya dan jarak angkut ke fasilitas pengolahan. Sumbar secara historis memang kerap membukukan TBS yang sedikit lebih mahal dibanding Kalbar.

Struktur lengkap harga Sumbar: sawit usia tiga tahun tercatat Rp3.141,76/kg, naik bertahap seiring usia, dan mencapai puncak di kelompok 10-20 tahun. Setelah itu harga mulai melorot. Sawit 21 tahun Rp3.860,87/kg, terus tergerus hingga Rp3.585,29/kg di usia 25 tahun. Wajar, produktivitas memang meredup di usia tua.

Pola serupa berlaku di Kalbar. Dari Rp2.785,85/kg untuk usia tiga tahun, harga merangkak naik ke puncak Rp3.705,96/kg di kelompok usia produktif, lalu amblas ke Rp3.397,59/kg untuk pohon 25 tahun.

Dari sisi hulu, Sumbar menetapkan harga CPO di Rp15.215,46/kg dengan kernel Rp15.309,82/kg dan indeks K 94,34%. Kalbar mencatat CPO di Rp15.099,85/kg, kernel Rp15.164,96/kg, dengan indeks K yang lebih rendah: 92,40%. Perbedaan indeks K inilah yang sebagian besar menjelaskan mengapa TBS Sumbar konsisten lebih mahal.

Dua pekan berturut-turut naik. Entah kebetulan atau tidak, pola ini sering kali bak gayung bersambut dengan pergerakan harga CPO di pasar berjangka Bursa Malaysia. Bagi pelaku pasar yang megang emiten perkebunan, data ini patut dicermati sebagai indikator awal, sebelum angka penjualan CPO bulanan benar-benar keluar.