MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  TBS Sawit Riau dan Sumbar Kompak Melemah, Swadaya...

Finansial

TBS Sawit Riau dan Sumbar Kompak Melemah, Swadaya Riau Justru Tipis Naik

Harga TBS plasma Riau terkoreksi Rp33,56 per kg menjadi Rp3.866,90 per kg untuk periode 20–26 Mei 2026, sementara Sumbar juga turun Rp23,4 per kg. Uniknya, harga swadaya Riau justru naik tipis.

Harga TBS kelapa sawit petani swadaya di Riau naik tipis jadi Rp3.857,14 per kg, plasma turun

Dua provinsi sawit terbesar di Sumatera kompak mencatat koreksi harga tandan buah segar pekan ini. Riau dan Sumatera Barat sama-sama menetapkan harga TBS lebih rendah untuk periode pertengahan hingga akhir Mei 2026, dengan tekanan utama datang dari sisi CPO yang amblas cukup dalam.

Di Riau, tim penetapan harga Dinas Perkebunan Provinsi menetapkan TBS plasma umur 9 tahun, patokan utama, turun Rp33,56 per kg atau 0,86 persen dari periode sebelumnya menjadi Rp3.866,90 per kg. Berlaku untuk periode 20-26 Mei 2026 sesuai Surat Penetapan No. 17. Sumatera Barat mencatat koreksi lebih ringan: Rp23,4 per kg untuk kelompok umur 10-20 tahun, kini Rp3.998,76 per kg untuk periode III Mei (15-21 Mei 2026).

Spread antar kelompok umur di Riau cukup mencolok. Pohon muda umur 3 tahun hanya dihargai Rp2.988,92 per kg, sedangkan yang berada di puncak produktivitas, umur 9 tahun, mencapai Rp3.866,90 per kg. Pohon tua mulai tergerus nilainya: umur 30 tahun jatuh ke Rp3.364,62 per kg. Pola serupa terlihat di Sumbar. Umur 3 tahun berada di Rp3.122,59 per kg, puncaknya di umur 10-20 tahun sebesar Rp3.998,76 per kg.

Pemicunya jelas dari sisi CPO. Harga CPO plasma Riau tergerus Rp343,18 per kg menjadi Rp15.191,67 per kg. Kernel plasma pun amblas Rp308,72 menjadi Rp14.828,00 per kg. Sumbar mematok CPO di Rp15.102,06 per kg, dengan kernel lebih tinggi di Rp15.310,16 per kg dan indeks K 94,34%, sedikit di atas Riau yang tercatat 93,30%.

Cerita berbeda datang dari petani swadaya Riau. Kelompok ini justru naik tipis Rp24,49 per kg atau 0,64 persen menjadi Rp3.857,14 per kg. Ibarat pedang bermata dua: CPO-nya turun Rp29,63 per kg, tapi kernel swadaya masih menguat Rp4 per kg menjadi Rp14.828,00 per kg, dan itulah yang menopang penerimaan mereka pekan ini. "Kenaikan harga pekan ini lebih disebabkan oleh naiknya harga kernel, meski harga CPO mengalami penurunan," kata Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Vera Virgianti, di Pekanbaru.

Vera juga menyebut pihaknya terus memperbaiki tata kelola penetapan harga agar sesuai regulasi dan berkeadilan bagi kedua belah pihak. "Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh pemangku kepentingan yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," sebutnya.

Divergence antara swadaya yang naik dan plasma yang terkoreksi di Riau, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tren, mencerminkan betapa sensitifnya formula penetapan harga terhadap bobot kernel versus CPO dalam kalkulasi akhir. Pertanyaannya: berapa lama kernel bisa terus menopang sisi penerimaan petani jika tekanan CPO global tak mereda pekan depan?