SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Target Produksi MacBook Neo Digandakan, Apple Keja...

Tekno

Target Produksi MacBook Neo Digandakan, Apple Kejar 10 Juta Unit di Tengah Gejolak Biaya

Penjualan MacBook Neo melampaui proyeksi internal Apple, memaksa perusahaan menggandakan target produksi dari 5-6 juta menjadi 10 juta unit di tengah kenaikan biaya chip dan memori.

MacBook Neo

Angka 10 juta unit. Itu target baru Apple untuk MacBook Neo, laptop entry-level yang penjualannya jauh melampaui kalkulasi manajemen sendiri.

Sejak pertama kali tersedia, MacBook Neo langsung menguras stok di sejumlah pasar. Waktu tunggu pengiriman bengkak sampai empat minggu di beberapa wilayah. Sinyal paling gamblang bahwa Apple salah hitung antusiasme konsumen. Awalnya perusahaan memperkirakan kebutuhan 5 juta hingga 6 juta unit. Kini target itu digandakan.

Tim Cook mengakui tekanan pasokan ini di hadapan investor, akhir April lalu. Apple, ia bilang, sebetulnya sudah cukup optimistis terhadap produk tersebut sebelum peluncuran. Tapi tingkat antusiasme yang datang tetap saja melampaui perkiraan internal. Kinerja pendapatan segmen Mac dari produk ini disebut sebagai yang terkuat sejak era pandemi. Cook bahkan menyebut pekan peluncuran MacBook Neo, lewat unggahan di akun X-nya pada 20 Maret 2026, sebagai "minggu peluncuran terbaik yang pernah ada untuk pelanggan Mac pertama kali."

Untuk mengejar kebutuhan, Quanta Computer dan Foxconn tengah memacu produksi dari fasilitas mereka di Vietnam dan China. Apple juga memesan batch baru chip A18 Pro dari TSMC, prosesor yang sama dengan iPhone 16 Pro, diproduksi lewat proses N3E.

Di sinilah ceritanya jadi menarik secara teknis. Chip A18 Pro yang selama ini dipakai di MacBook Neo bukan versi penuh. Apple menerapkan strategi downbin: memanfaatkan chip dengan sebagian komponen cacat yang tidak lolos standar iPhone flagship. Konkretnya, satu inti GPU dinonaktifkan. MacBook Neo berjalan dengan lima GPU aktif, bukan enam seperti pada iPhone 16 Pro. Cara klasik industri semikonduktor untuk menekan biaya sekaligus tidak membuang chip yang masih layak pakai.

Batch baru yang dipesan Apple agaknya lain cerita. Karena kebutuhan datang mendadak, sebagian besar chip berasal dari kategori premium dengan seluruh GPU berfungsi normal. Apple kemungkinan akan menonaktifkan satu GPU lewat perangkat lunak agar performa tetap konsisten dengan spesifikasi Neo yang sudah beredar. Biaya produksi pun ikut terkerek. Ditambah kenaikan harga DRAM, beban total makin berat.

Rp10,5 juta. Itu harga varian paling murah MacBook Neo, model 256GB seharga 599 dolar AS. Ada satu pilihan lagi: 512GB di 699 dolar AS, sekitar Rp12 juta. Naiknya biaya produksi memunculkan pertanyaan soal berapa lama dua varian ini bisa bertahan berdampingan. Apple pernah melakukan hal serupa pada Mac Mini, menghentikan model 256GB dan hanya menyisakan varian yang lebih mahal demi menjaga margin. Pola yang sama, kata sejumlah pengamat, bisa berulang di sini.

Daya tarik MacBook Neo sebetulnya mudah dibaca. Bagi pengguna yang sudah punya iPhone atau iPad, ini pintu masuk paling logis ke ekosistem macOS. iCloud, AirDrop, Handoff, semuanya langsung jalan tanpa perlu konfigurasi rumit. Bobotnya sekitar satu kilogram, desain tipis, pilihan warna lebih berani dibanding seri MacBook konvensional. Kompetitor langsungnya Chromebook dan laptop Windows kelas bawah, segmen yang bertahun-tahun nyaris tidak pernah disentuh Apple.

Kalau tren ini bertahan, MacBook Neo berpotensi jadi produk Mac terlaris Apple dalam beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya: apakah Apple akan mempertahankan harga sekarang, atau diam-diam menyederhanakan varian seiring biaya produksi yang terus menanjak?