KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Target 8 Persen dan Lomba Karung: Wajah HUT RI ke-...

Ekonomi

Target 8 Persen dan Lomba Karung: Wajah HUT RI ke-81 di Bengkulu

Dari renungan suci tengah malam hingga lomba balap karung di gang-gang kota, Bengkulu merayakan HUT ke-81 RI dengan satu benang merah: persatuan sebagai syarat mutlak pertumbuhan ekonomi.

Gubernur Bengkulu: Persatuan modal ekonomi tumbuh delapan persen

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan tidak basa-basi soal angka. Pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Balai Raya Semarak, Senin (17/8/2026), ia menyebut target pertumbuhan ekonomi delapan persen bukan sekadar mimpi, asalkan satu syarat terpenuhi: persatuan dan kesatuan.

"Modal Indonesia untuk menjadi negara dengan angka pertumbuhan delapan persen itu adalah persatuan-kesatuan," kata Helmi. Ia menunjuk dua aset yang menurutnya tak tertandingi: sumber daya alam yang berlimpah dan kondisi iklim yang bersahabat. Perbedaan agama, suku, dan latar belakang bukan hambatan. Keberagaman, kata dia, justru harus menjadikan bangsa semakin kaya.

Upacara yang dimulai pukul 08.30 WIB itu berlangsung khidmat dengan Letkol Infanteri Al Muttaqin selaku komandan upacara. Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid hadir bersama jajaran Forkopimda. Yang menarik perhatian: tujuh eks narapidana terorisme asal Bengkulu turut duduk di antara lebih dari 500 tamu undangan. Kehadiran mereka, entah kebetulan atau tidak, justru memperkuat pesan inklusivitas yang diusung peringatan tahun ini.

Dua belas jam sebelumnya. Tepat pukul 00.00 WIB, Kapolda Yudhi memimpin Apel Kehormatan dan Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan Balai Buntar. Para pejabat sipil dan militer berdiri dalam diam di hadapan deretan nisan, mengheningkan cipta untuk mereka yang tidak sempat menyaksikan kemerdekaan yang diperjuangkannya. "Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah amanah yang harus kita jaga bersama," ujar Yudhi.

Jauh dari protokol kenegaraan, warga RT 26 Kelurahan Bentiring sudah sibuk sejak pagi menyiapkan arena lomba. Bukan forum kebijakan, bukan pidato soal angka delapan persen. Balap karung, makan kerupuk, lari kelereng. Sederhana, tapi cukup untuk membuat anak-anak berlari penuh tawa sementara orang tua berteriak dari pinggir arena.

"Setiap tahun acara perlombaan bagi anak-anak selalu dilakukan sebagai bentuk memupuk rasa nasionalisme dan mengisi kemerdekaan," kata Maza Aninda, salah seorang warga setempat. Warga lain, Ice, menyebut momen seperti ini memberi anak-anaknya pengalaman yang tidak bisa diperoleh dari ruang kelas. Nilai-nilai perjuangan, katanya, terasa lebih hidup ketika dirayakan bersama tetangga.

Tiga lapisan peringatan dalam satu hari: renungan di makam pahlawan, upacara kenegaraan dengan pidato ekonomi, perlombaan rakyat di gang perumahan. Ketiganya agaknya menjawab dengan caranya sendiri pertanyaan lama tentang apa arti kemerdekaan setelah 81 tahun. Kalau data dan seremonial bisa dipercaya, jawabannya memang tidak tunggal.