Ironis, tapi itulah yang terjadi. Di saat kepala perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic baru saja keluar dari ruang pertemuan dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao, membicarakan cara memangkas defisit dagang yang kian menganga, gelombang panas terpanas dalam sejarah modern Eropa sedang menghajar daratan benua itu. Warganya berbondong-bondong ke toko elektronik. Hampir semua AC yang mereka beli buatan China.
Sefcovic menargetkan Oktober sebagai tenggat untuk hasil nyata dari perselisihan panjang soal ketidakseimbangan perdagangan, kontrol ekspor, dan kekayaan intelektual. "Tidak semuanya akan terselesaikan, tidak semuanya akan diperbaiki, tapi kami pikir antara sekarang dan Oktober, tim kami punya waktu cukup untuk memberikan hasil nyata," katanya. Defisit barang Eropa dengan China tumbuh 15% menjadi USD 410 miliar tahun lalu, dengan peralatan listrik dan mesin sebagai komponen terbesar. AC China kini aktif menambah angka itu.
Biarkan data yang bicara. Midea Group melaporkan pesanan unit PortaSplit-nya melampaui 200.000 unit tahun ini, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Angka yang, bagi sebagian orang, terdengar seperti kemenangan bisnis biasa. Bagi Brussel, ini sinyal betapa dalamnya lubang ketergantungan itu. Bukan main.
Selama puluhan tahun, Eropa memandang AC dengan setengah hati. Bising, boros energi, dan gelombang panas di sana dulu cepat berlalu. Akibatnya, penetrasi AC di rumah tangga Eropa baru menyentuh sekitar 20%, jauh di bawah hampir 90% di Amerika Serikat. Kesenjangan besar itu kini menjadi ladang emas bagi produsen Asia, yang berpacu menutupnya lebih cepat dari yang sempat dibayangkan Brussel.
Nama-nama seperti Haier, Gree, dan Midea dari China, ditambah Beko dari Turki dan Daikin dari Jepang, menguasai lima besar pasar AC Eropa. Tidak satu pun berasal dari Uni Eropa. Menurut data Euromonitor International, tiga merek China saja sudah mengantongi sekitar 32% pangsa pasar Eropa pada 2025. Bukan kebetulan.
Midea agaknya paling cerdik membaca medan. Unit luar PortaSplit dirancang agar bisa dijepit di braket jendela tanpa pengeboran, lalu diklasifikasikan sebagai furnitur, bukan instalasi tetap. Dengan cara itu produk ini lolos dari larangan modifikasi fasad yang ketat di kota-kota seperti Paris. Terdengar teknis, efeknya sangat komersial.
Di China, respons terhadap suhu ekstrem bahkan sudah melangkah lebih jauh. Sejumlah gedung di sana dilaporkan memasang sistem pendingin skala besar di luar ruangan, semacam "AC raksasa" yang memodifikasi suhu udara di area publik sekitar bangunan. Futuristik, tapi mencerminkan betapa seriusnya negara itu menghadapi ancaman panas.
Kekhawatiran soal iklim tetap ada. Adopsi AC massal berarti lonjakan konsumsi energi yang berpotensi menabrak target emisi karbon Eropa. Tapi ketika suhu memanggang jalanan dan rumah sakit mulai kewalahan, pertanyaan ideologis soal lingkungan mudah tergeser oleh kebutuhan paling mendasar: bertahan hidup. Entah kebetulan atau tidak, kondisi ini persis yang diinginkan produsen Asia.
Pertanyaannya sekarang: apakah Eropa bisa membangun industri AC sendiri sebelum ketergantungan ini mengakar terlalu dalam? Kalau data ini bisa dipercaya, jawabannya tidak terlalu menggembirakan. Sejarah industri manufaktur Eropa sudah lama memberi petunjuk ke arah itu.