Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang memerintah selama 18 tahun, wafat Minggu pagi, 12 Juli 2026, di usia hampir 74 tahun. Warisan yang ia tinggalkan, agaknya, tidak akan mudah dilupakan oleh siapa pun yang mengikuti geopolitik Timur Tengah.
Konfirmasi resmi datang dari Amiri Diwan, kantor administratif Emir Qatar. "Dengan hati yang teguh dalam keyakinan terhadap ketetapan dan takdir Allah, Amiri Diwan berduka atas kehilangan besar bagi bangsa ini atas wafatnya Yang Mulia Ayahanda Emir Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, yang meninggal dunia pagi ini pada usia hampir 74 tahun, semoga Allah merahmatinya," demikian bunyi pernyataan resmi kantor tersebut. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Lusail setelah salat jenazah yang digelar di Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahab di Doha, usai salat Magrib hari yang sama.
Empat hari berkabung nasional. Pemerintah Qatar menetapkan masa berkabung itu dimulai sejak Minggu, dengan seluruh bendera dikibarkan setengah tiang. Semua kementerian, lembaga pemerintah, dan institusi publik dihentikan sementara mulai Senin, 13 Juli, dengan pegawai dijadwalkan kembali bekerja pada 19 Juli. Emir Qatar saat ini, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, putra mendiang, dijadwalkan menerima ucapan belasungkawa dari para kepala negara dan anggota kerajaan selama tiga hari, 13 hingga 15 Juli.
Indonesia termasuk dalam deretan negara yang menyampaikan duka cita. Kementerian Luar Negeri RI menyatakan belasungkawa mendalam melalui akun resmi X, ditujukan kepada Syekh Tamim, seluruh anggota keluarga kerajaan Al Thani, pemerintah, dan rakyat Qatar.
Syekh Hamad berkuasa sejak 1995 hingga 2013, sebelum secara sukarela menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya. Delapan belas tahun bukan angka kecil. Dalam rentang itu, Qatar bertransformasi dari negara Teluk yang nyaris tak terdengar namanya menjadi salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, sekaligus pemain diplomasi yang pengaruhnya jauh melampaui ukuran geografis maupun populasinya.
Ia juga otak di balik pendirian Al Jazeera, jaringan televisi yang kemudian menjelma salah satu organisasi media paling disegani di panggung global. Selama masa pemerintahannya, Qatar menjadi tuan rumah sejumlah peristiwa kelas satu: Asian Games 2006, Konferensi Perubahan Iklim PBB 2012, Doha Agreement, dan kesepakatan rekonsiliasi Fatah-Hamas di Doha. Pertanyaannya, apakah semua itu terjadi karena keberuntungan semata, atau karena ada kalkulasi panjang di baliknya? Kalau data sejarah bisa dipercaya, jawabannya jelas bukan yang pertama.
Meski sudah melepas jabatan lebih dari satu dekade lalu, Syekh Hamad tetap dianggap sebagai figur yang dicintai dan berpengaruh di negerinya. Estafet yang ia serahkan kepada Syekh Tamim pada 2013 ternyata bukan penutup dari visinya. Itu kelanjutannya.