Target empat tahun itu jebol dalam satu. Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa swasembada pangan Indonesia sudah bisa diklaim tercapai jauh lebih awal dari jadwal, sebuah pencapaian yang langsung ia sematkan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di hadapan ribuan hadirin peresmian 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Apresiasi Prabowo kepada Amran bukan basa-basi seremonial. Presiden membuka cerita soal bagaimana ia nyaris tidak mengenal Amran sebelumnya. "Saya tidak pernah kenal beliau. Saya tanya dua-tiga pertanyaan, ternyata orang ini oke pemikirannya. Kemudian saya usulkan ke Pak Jokowi, beliau ditarik kembali jadi Menteri Pertanian. The rest is history. Beliau akhirnya berjuang karena menguasai masalah," kata Prabowo. Beberapa tanya, satu percakapan, dan nama Amran pun ia rekomendasikan kepada Joko Widodo untuk dikembalikan ke kursi menteri pertanian pada Oktober 2023, menggantikan Syahrul Yasin Limpo yang tersandung korupsi.
Amran bukan orang baru di sektor ini. Ia pernah menjabat mentan periode 2014-2019, berlatar belakang pelaku usaha pertanian, dan lahir dari keluarga petani. Kombinasi itu, kata Prabowo, yang membuat Amran benar-benar menguasai persoalan, bukan sekadar memahaminya dari balik meja.
Kedekatan Prabowo dengan sektor pertanian agaknya bukan sesuatu yang baru dibangunnya sejak menjadi presiden. Ia menyebut pengalamannya sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia sebagai salah satu akarnya. Tapi ada satu pelajaran yang ia dapat dari tempat yang lebih keras. "Saya dulu komandan pasukan tempur, kita kalau berangkat operasi tempur yang kita cek bukan peluru, tapi kita cek dulu ada beras atau tidak," ungkap Prabowo dalam kegiatan panen raya jagung serentak di Kabupaten Tuban yang dipantau secara daring.
Logika operasi militer dan logika ketahanan pangan, dalam pandangannya, tidak terlalu berbeda. Ketersediaan beras menentukan seberapa lama sebuah operasi bisa bertahan. Jauh sebelum itu, tentara republik hidup dari uluran tangan masyarakat desa yang berprofesi sebagai petani, di masa ketika gaji prajurit belum tentu cukup untuk makan. Pola yang sama, kata Prabowo, berlanjut hingga ke masa modern ketika ia masih taruna dan warga desa masih menyuapi prajurit yang berlatih.
"Itulah sejarah bagaimana saya semakin sadar waktu itu pentingnya para petani para nelayan. Para petani dan para nelayan adalah produsen makan untuk seluruh bangsa dan negara," ujar Prabowo.
Di Nganjuk, Prabowo juga menyinggung soal citra Indonesia di mata dunia. Bangsa ini, katanya, terlalu lama dianggap sebagai the soft state oleh negara-negara lain. Capaian swasembada pangan dalam setahun, kalau data produksi dan neraca impor memang mendukung klaim itu, bisa jadi salah satu argumen paling keras untuk membantah label tersebut. Pertanyaannya, verifikasi lapangan macam apa yang akan membuktikannya?