Angka-angkanya terlihat meyakinkan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, produksi beras nasional diproyeksikan menyentuh 19,2 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi hanya 15,4 juta ton. Surplus 3,7 juta ton, dan sebagian besarnya sudah diserap Bulog sebesar 3,2 juta ton setara beras hingga 26 Juni.
Tapi di pasar tradisional, harga beras tidak ikut turun. Di sinilah paradoks itu hidup.
Badan Pangan Nasional optimistis kondisi pangan nasional tetap terkendali. Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Sarwo Edhy menyatakan cuaca selama ini masih cukup normal sehingga belum mengganggu pertanaman, dan peningkatan produksi tetap bisa tercapai sesuai target. Pihaknya juga aktif berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perubahan cuaca, termasuk potensi dampak El Nino yang sampai sekarang dinilai belum berdampak besar terhadap sektor pertanian.
Untuk jaga-jaga, pemerintah sudah memperkuat stok cadangan pangan, baik di level nasional melalui Bulog maupun di level daerah yang dikelola masing-masing pemda. Petani juga sudah disosialisasikan soal pola tanam yang sesuai anjuran pemerintah menghadapi potensi kemarau panjang.
Proyeksi neraca beras hingga akhir 2026 terbilang longgar. Stok awal tahun 12,54 juta ton, ditambah proyeksi produksi setahun penuh 34,76 juta ton, dikurangi konsumsi 31,1 juta ton, menghasilkan proyeksi stok akhir tahun 16,24 juta ton. Badan Pangan Nasional mengklaim angka ini cukup untuk menutup kebutuhan konsumsi nasional hingga lima bulan pertama 2027. Klaim yang patut dicermati, mengingat realisasi sering meleset dari proyeksi.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak terjawab oleh deretan angka proyeksi itu: kenapa harga beras di tingkat konsumen masih terasa berat?
Produksi melimpah di atas kertas tidak otomatis berarti beras murah di warung. Rantai distribusi, margin pedagang, biaya logistik antarpulau, sampai kebijakan harga dasar, semuanya bisa memotong manfaat surplus sebelum sampai ke tangan ibu rumah tangga. Belum lagi soal kualitas beras yang diserap Bulog versus preferensi konsumen di kota besar. Ini cermin retak dari kebijakan pangan kita: stok ada, tapi daya beli tetap kena tampar.
Sarwo menegaskan penyerapan Bulog berjalan sesuai rencana, bak gayung bersambut dengan musim panen yang berjalan normal. Secara teknis, stok ada. Secara politik, pemerintah aman. Tapi secara ekonomi rumah tangga, agaknya ceritanya berbeda.
Pertanyaannya, berapa lama surplus di atas kertas ini bisa menahan tekanan harga di bawah? Dengan stok cadangan yang diklaim solid dan El Nino yang belum menggigit, pemerintah punya modal cukup untuk menstabilkan harga, kalau memang ada kemauan dan instrumen yang tepat untuk mengeksekusinya.