Dua kuartal setelah pasar laptop bisnis diramaikan chip Lunar Lake, Microsoft menaikkan taruhan lebih jauh. Surface Pro 12 dan Surface Laptop 8 for Business resmi diumumkan, keduanya mengandalkan Intel Core Ultra Series 3 dengan nama kode "Panther Lake", prosesor konsumen pertama yang diproduksi lewat fabrikasi Intel 18A alias 1,8 nm. Sebelumnya, teknologi ini hanya menyentuh chip server kelas enterprise Intel Xeon.
Bukan upgrade generasional biasa. Intel 18A selama ini dikunci untuk segmen korporat, dan kini untuk pertama kalinya turun ke perangkat konsumer lewat lini Surface. Pertanyaannya: apakah ini akan menggeser persepsi pasar soal performa laptop bisnis tipis? Agaknya Microsoft sedang bertaruh jawabannya ya.
Surface Laptop 8 for Business hadir dalam tiga pilihan ukuran: 13 inci, 13,8 inci, dan 15 inci. Model 13,8 inci dan 15 inci memakai panel IPS PixelSense Flow dengan refresh rate 120 Hz. Khusus varian 15 inci, resolusi layar naik cukup serius dari 201 PPI ke 262 PPI, setara 3.270 x 2.180 piksel. Konfigurasi tertinggi membawa Intel Core Ultra X7 368H dengan GPU terintegrasi Intel Arc B390 dan RAM hingga 64 GB LPDDR5X.
Feature yang paling langsung terasa dampaknya bagi pengguna kantoran: privacy screen bawaan di model 13,8 inci dan 15 inci, tersedia sebagai opsi. Layar membatasi sudut pandang dari samping tanpa mengorbankan kejernihan bagi yang duduk tepat di depan, dan cukup diaktifkan lewat tombol F1. Microsoft menyebut ini setara Privacy Display di Samsung Galaxy S26 Ultra. Klaim yang, kalau boleh jujur, masih perlu dibuktikan lewat pengujian head-to-head.
Touchpad baru dengan haptic feedback juga masuk di Surface Laptop 8, memberi respons getaran saat pengguna menyusun jendela atau mengatur objek di layar. Terdengar minor. Tapi bagi yang seharian bekerja di atas laptop, perbedaannya nyata. Model 13 inci dikemas lebih ramping sebagai pilihan paling portabel di lini bisnis, sudah mendukung WiFi 7 dan SSD Gen 4 yang bisa dilepas untuk keperluan servis korporat.
Surface Pro 12 for Business mengambil jalur berbeda. Bobotnya di bawah 1 kg, layar sentuh PixelSense Flow 13 inci beresolusi 2,8K dengan refresh rate 120 Hz, desain 2-in-1 yang memungkinkan peralihan antara mode tablet dan laptop. Tersedia pilihan Intel Core Ultra 5 335 atau Core Ultra 7 366H, dengan opsi layar IPS maupun OLED. Baterai 47 Wh untuk versi IPS, 53 Wh untuk OLED.
Satu penambahan yang relevan buat pengguna mobile: konektivitas 5G tersedia dari hari pertama penjualan, bukan ditempel belakangan sebagai aksesori. Pengguna tak perlu lagi bergantung pada hotspot atau WiFi publik saat bekerja dari luar kantor. Surface Pro 12 mendukung input sentuh, stylus, keyboard lepas-pasang, hingga kontrol suara. Cukup lengkap, entah kebetulan atau tidak, hampir semua celah produktivitas mobile tertutup di satu perangkat. Catatan: haptic touchpad tidak hadir di Surface Pro 12, berbeda dari Surface Laptop 8.
Soal harga, Surface Laptop 8 mulai dari sekitar Rp 26,5 jutaan. Surface Pro 12 dibandrol mulai US$ 1.949 atau sekitar Rp 34 jutaan di pasar Amerika. Microsoft juga berencana merilis Surface Laptop 13 inci dengan RAM 8 GB akhir tahun ini, harganya mulai US$ 1.299,99 atau sekitar Rp 23 jutaan.
Tahap awal peluncuran hanya mencakup varian "for Business". Model consumer dan versi berbasis Snapdragon X2 dari Qualcomm disebut menyusul di paruh kedua 2026. Bagi investor yang melirik saham Microsoft atau emiten distribusi perangkat IT di bursa, momentum ini patut dicermati: apakah refresh cycle korporat akan dipercepat setelah chip Panther Lake dengan efisiensi fabrikasi 1,8 nm masuk pasar secara massal? Setidaknya itu pertanyaan yang sedang digantungkan Microsoft di hadapan pelaku pasar.