SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Supertanker Irak Lolos Blokade, Hormuz Masih Jauh...

Internasional

Supertanker Irak Lolos Blokade, Hormuz Masih Jauh dari Pulih

Agios Fanourios I akhirnya melanjutkan perjalanan ke Vietnam setelah tertahan lima hari oleh Angkatan Laut AS. Di balik itu, Selat Hormuz tetap terblokir dengan aliran minyak yang hanya sepersepuluh kapasitas normal.

Kapal Tanker Irak Lolos Blokade AS dan Berlayar Menuju Vietnam

Setelah lima hari tertahan di Teluk Oman, supertanker pengangkut minyak mentah Irak, Agios Fanourios I, akhirnya kembali berlayar menuju kilang Nghi Son di Vietnam. Kapal berbendera Malta berjenis very large crude carrier (VLCC) itu diperkirakan merapat Sabtu, 30 Mei.

Perjalanannya tidak mulus. Agios Fanourios I keluar dari Selat Hormuz pada 10 Mei, lalu tiba-tiba berbalik sehari kemudian begitu berada di Teluk Oman. Centcom menyatakan kapal itu dialihkan sebagai bagian dari penegakan blokade terhadap Iran. Baru pada 16 Mei kapal tersebut kembali meneruskan rute aslinya ke Vietnam.

Satu kapal lolos bukan berarti situasi normal. Data pelacakan Bloomberg mencatat hanya empat supertanker yang berhasil melintas Selat Hormuz sejak 10 Mei, masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah, sebagian besar asal Irak. Lajunya mendekati 2 juta barel per hari. Bukan angka kecil secara absolut, tapi jauh dari kondisi sebelum perang, ketika sekitar 20 kapal tanker lintas selat itu setiap harinya.

Selat Hormuz praktis tersumbat sejak konflik pecah akhir Februari lalu. Ekspor dari Iran ambruk begitu blokade AS berlaku, sementara pengiriman dari negara lain seperti Irak hanya naik tipis. Total, gangguan ini telah memangkas pasokan global sekitar satu miliar barel. Para pedagang minyak menyebut ini gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi modern. Bukan klaim ringan.

Harga minyak sudah duluan bereaksi. Sempat melonjak lebih dari 1% setelah serangan drone menghantam fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab, memperdalam kegelisahan pasar soal stabilitas pasokan kawasan. Ketegangan Iran-Israel yang kembali memanas turut melempar bensin ke api.

Qatar, satu-satunya yang bersuara lebih jelas, menegaskan tidak ada pengaturan khusus untuk ekspor energinya. Sinyal bahwa tiap negara produsen kawasan kini bermain dengan kartunya sendiri-sendiri.

Empat supertanker yang lolos itu? Setetes air di gurun pasir. Selama kapasitas harian Hormuz masih mampet di kisaran 2 juta barel, jauh dari rata-rata historis sebelum krisis, premi risiko geopolitik di harga minyak agaknya belum kemana-mana dalam waktu dekat.