Basel mencetak rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni. Bukan prestasi yang ingin dirayakan Swiss, negara yang selama puluhan tahun lebih dikenal karena udara pegunungannya yang sejuk ketimbang terik yang menyengat.
Gelombang panas merangsek masuk ke jantung Eropa sepekan terakhir, dan Swiss tak luput. MeteoSwiss, otoritas meteorologi setempat, menaikkan peringatan heatwave ke level tinggi di sejumlah wilayah. Suhu sejumlah kota mencapai 34-38 derajat celsius, belum termasuk efek "feels like" yang bisa menembus 40 derajat. Para ilmuwan menyebut fenomena ini dipicu pola atmosfer "Omega Block", formasi tekanan tinggi yang memerangkap udara panas selama berhari-hari tanpa bisa bergeser. Perubahan iklim, seperti biasa, disebut sebagai faktor yang membuat kejadian semacam ini kian sering berulang.
Masalahnya, Swiss memang tidak dirancang untuk panas seperti ini. Rumah, apartemen, toko, restoran, bahkan sebagian besar hotel jarang dilengkapi AC, karena selama puluhan tahun suhu musim panas di sana nyaris tidak pernah tembus 30 derajat. Situasi yang agaknya kini mulai berubah drastis.
Warga Bern, ibu kota federal Swiss, tahu persis solusinya: Sungai Aare.
Minggu (28/6/2026) sore, ratusan orang berbondong-bondong memadati tepian sungai sepanjang 280 kilometer itu. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Ada yang berenang mengikuti arus, ada yang naik perahu karet, ada pula yang sekadar berdiri di tepi merasakan dinginnya air yang bersumber dari gletser Oberaar di Pegunungan Alpen Bernese. Airnya jernih, nyaris tanpa sampah, dan suhunya cukup menusuk untuk menjadi obat paling efektif melawan heatwave.
Jembatan Schönausteg, bentangan 55 meter dengan dasar kayu dan rangka baja, menjadi titik paling ramai. Lebarnya hanya dua hingga tiga meter, tapi penuh sesak oleh warga yang antre melompat ke sungai di bawahnya. Mereka memilih momen dengan cermat agar tidak mendarat di atas perenang lain. Ramai sekali, boleh dibilang.
"Biasanya warga lokal itu, pulang kerja, langsung nyemplung ke Aare. Pakaian kerjanya dilipat, dimasukkan tas yang sekaligus jadi pelampung," ujar Ngurah Swajaya, Duta Besar RI untuk Swiss yang menjabat sejak Juni 2023. Ia juga menyebut aplikasi bernama Aare Guru, panduan digital yang memberi informasi kondisi sungai secara real-time, dari suhu air hingga kecepatan arus, titik masuk yang aman, sampai prakiraan cuaca. Warga lokal tahu kapan waktu yang tepat. Itu bukan sekadar hobi, itu kebiasaan yang sudah tertanam bertahun-tahun.
Marco, salah satu warga Bern, mengaku sepekan terakhir tidak pernah absen mampir ke Aare selepas kantor. Entah kebetulan atau tidak, jam tutup kantor dan toko di Swiss rata-rata pukul 16.00, artinya waktu sore masih panjang dan arus sungai masih cukup bersahabat. Bagi yang kantornya berada di jalur sungai, "pulang" bisa berarti mengikuti arus beberapa ratus meter, jauh lebih efisien dari macet di jalan.
Roger, warga Bern lainnya, mengingatkan bahwa Aare bukan taman bermain tanpa risiko. Kedalaman sungai bisa mencapai 1-3 meter, dasarnya berbatu, dan arus pada musim panas berkisar 3-5 km per jam, bahkan bisa melonjak hingga 12 km per jam usai hujan lebat. Kecelakaan, kata Roger, bukan hal yang tidak pernah terjadi. Pengunjung dianjurkan melapisi telapak kaki saat berenang, dan harus paham betul titik masuk serta keluarnya sebelum terjun.
Riska, WNI yang sudah 18 tahun menetap di Bern dan lulusan Sastra Jerman Universitas Indonesia, memilih berhati-hati. Ia biasanya datang bersama keluarga, tapi lebih sering sebatas menikmati pemandangan dari tepi. "Kedalamannya bisa sampai 3 meter dan arusnya kencang. Banyakan yang berenang kalau sudah paham arusnya, turunnya dari mana, keluarnya dari mana," ujarnya.
Bagi warga Bern, menjaga kebersihan Aare bukan aturan tertulis. Ini kesepakatan tak terucap. Sungai ini terlalu penting untuk dirusak, baik sebagai ruang publik, sebagai budaya, maupun sebagai pendingin alami kala musim panas kian tidak terduga. Swiss yang kini kena tampar rekor suhu Juni menemukan jawabannya justru di sungai yang sudah mengalir jauh sebelum heatwave pertama kali datang mengetuk.