RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Sultan Brunei Rombak Kabinet, Dua Pangeran Muda Ma...

Internasional

Sultan Brunei Rombak Kabinet, Dua Pangeran Muda Masuk Pemerintahan

Sultan Hassanal Bolkiah merombak kabinet Brunei untuk pertama kalinya sejak 2022, menunjuk dua putra bungsunya sebagai menteri di tengah tekanan krisis energi global dan spekulasi suksesi.

Sultan Brunei Rombak Kabinet, Tunjuk Dua Putranya Jadi Menteri

Perombakan kabinet terbesar Brunei dalam empat tahun terakhir resmi diumumkan Sultan Hassanal Bolkiah pada Kamis (4/6/2026), membawa dua pangeran muda langsung ke jajaran pemerintahan dan memantik spekulasi yang sudah lama beredar soal suksesi kepemimpinan di kesultanan kaya minyak itu.

Pangeran Abdul Malik, putra kedua Sultan Hassanal, ditunjuk sebagai Menteri di Kantor Perdana Menteri, debut kabinet pertamanya. Lebih mencolok, Pangeran Abdul Mateen, figur dengan jutaan pengikut di media sosial sekaligus atlet polo, dipercaya memegang kursi Menteri Luar Negeri, posisi yang sebelumnya langsung digenggam sang Sultan. Bukan promosi kecil.

Putra sulung dan pewaris resmi takhta, Putra Mahkota Al-Muhtadee Billah, tetap di posisinya sebagai Menteri Senior di Kantor Perdana Menteri. Lewat siaran televisi nasional, Sultan Hassanal menegaskan ia tidak melepas kendali atas tiga jabatan strategis sekaligus: Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Keuangan.

Tiga sekaligus. Pesannya jelas.

Namun konteks di balik reshuffle ini agaknya tidak sesederhana rotasi rutin. Sultan Hassanal kini berusia 79 tahun, berkuasa sejak 1967, dan menjadi monarki paling lama bertakhta di dunia. Tahun ini, frekuensi kemunculan publiknya menyusut cukup tajam pasca operasi penggantian lutut pada Januari lalu. Tahun depan ia akan merayakan Diamond Jubilee, peringatan 60 tahun masa pemerintahannya. Masuknya dua pangeran ke posisi kabinet strategis, dalam kondisi seperti ini, sulit dibaca hanya sebagai penyegaran biasa.

Di luar dinamika keluarga kerajaan, reshuffle ini juga diwarnai perubahan struktural. Sultan mengumumkan pembentukan tiga jabatan menteri baru untuk memperkuat koordinasi kebijakan lintas kementerian. Kementerian Sumber Daya Primer dan Pariwisata direorganisasi menjadi Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri, perubahan nomenklatur yang mencerminkan ambisi Brunei keluar dari jebakan ketergantungan sektor energi. "Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pengembangan sektor-sektor prioritas, memperkuat upaya diversifikasi ekonomi, mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, serta menciptakan peluang kerja yang bermakna," ujar Sultan Hassanal.

Reshuffle ini juga mencatat rekor tersendiri: jumlah penunjukan pejabat perempuan terbanyak dalam sejarah kabinet Brunei, termasuk posisi Menteri Pendidikan dan tiga wakil menteri.

Tekanan dari luar pun tidak bisa diabaikan. Krisis energi global yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengubah kalkulasi ekonomi Brunei. Sebagai salah satu produsen minyak dan gas di Asia Tenggara, Brunei sempat menikmati lonjakan ekspor minyak mentah, produk olahan, dan gas alam seiring melesat­nya harga energi global. Bak gayung bersambut dengan kegaduhan geopolitik.

Tapi ada harga yang harus dibayar. Biaya subsidi energi domestik melonjak demi mempertahankan harga bahan bakar yang selama ini menjadi salah satu termurah di kawasan. Bulan lalu, pemerintah melarang kendaraan berpelat asing masuk ke wilayah Brunei jika tangki bahan bakarnya terisi kurang dari tiga perempat kapasitas, langkah yang terang-terangan menyasar praktik penyelundupan lintas batas. Sehari sebelum pengumuman reshuffle, Departemen Energi mengonfirmasi pembentukan komite khusus untuk memantau dampak konflik Timur Tengah terhadap sektor energi dan ekonomi nasional.

Pertanyaannya, seberapa jauh pergeseran ini akan mengubah wajah pemerintahan Brunei?

Bagi pelaku pasar yang mengikuti kawasan Asia Tenggara, Brunei memang bukan emiten yang bisa ditransaksikan di bursa. Tapi pergeseran kepemimpinan di negara pengekspor energi ini, kala volatilitas komoditas global sedang tinggi, tetap layak dicermati sebagai sinyal stabilitas, kalau bukan sebaliknya.