Pada 19 Mei 2026, di fasilitas penerbangan dekat Komsomolsk-on-Amur di Rusia Timur Jauh, sebuah prototipe bernomor lambung '055' mengudara untuk pertama kalinya. Bukan jet tempur biasa: ini Su-57D, varian berkursi ganda dari jet siluman generasi kelima Rusia yang selama ini hanya beredar sebagai spekulasi, ilustrasi konseptual, dan foto-foto tidak resmi yang berseliweran di forum militer.
Kepala Pilot Uji Sukhoi, Sergey Bogdan, pemegang gelar kehormatan Hero of Russia, duduk di kokpit depan. Penerbangan berlangsung sesuai parameter yang ditetapkan untuk fase evaluasi awal, tanpa anomali yang dilaporkan, begitu klaim United Aircraft Corporation (UAC) dalam rilis resminya, yang sekaligus menjadi konfirmasi visual pertama konfigurasi dua tempat duduk ini kepada publik dunia.
Huruf "D" di belakang kode itu bukan sembarang inisial. Diambil dari kata Rusia "Двухместный" (Dvukhmesny), yang secara harfiah berarti "berkursi ganda". Penamaan yang lugas, mencerminkan perubahan fisik paling mencolok pada varian ini: kanopi yang dibuat lebih memanjang untuk mengakomodasi kokpit kedua di belakang pilot utama.
Rusia bukan yang pertama. China lebih dahulu memperkenalkan J-20S, varian tandem dari jet siluman andalan Angkatan Udara PLA, saat Airshow China di Zhuhai pada November 2024 melalui model skala penuh statis, disusul debut operasional resminya pada parade militer September 2025. Su-57D, karenanya, menjadi jet tempur stealth generasi kelima kedua di dunia yang memilih konfigurasi tandem. Tren yang agaknya mulai menantang dominasi desain kursi tunggal dari F-22 dan F-35 Amerika.
Kenapa repot-repot menambah kursi kedua pada jet yang sudah serumit ini?
Jawaban ada di doktrin pertempuran modern, bukan di ruang desain. Wakil Perdana Menteri Pertama Rusia Denis Manturov menegaskan bahwa Su-57D dirancang untuk menggabungkan kemampuan jet tempur generasi kelima dengan fungsi-fungsi yang lazim pada platform pelatihan sekaligus manajemen tempur. "Kehadiran awak kedua memungkinkan pembagian tugas dalam misi yang sangat kompleks, terutama di lingkungan pertempuran modern di mana sejumlah besar data perlu diproses secara real-time," ujar Manturov.
Awak di kursi belakang bukan sekadar co-pilot cadangan. Perannya disiapkan sebagai Weapon Systems Officer (WSO), pengendali peperangan elektronik, koordinator serangan presisi, sekaligus operator utama drone tempur otonom. Rusia sudah lama membicarakan Su-57 sebagai platform komando untuk drone berat S-70 Okhotnik-B. Su-57D memberi konsep itu bentuk konkret: pilot depan fokus menerbangkan pesawat dan mengelola situasi taktis, sementara awak belakang mengarahkan kawanan drone pengintai, penyerang, dan perang elektronik secara bersamaan. Konsep Manned-Unmanned Teaming (MUM-T) ini sudah menjadi alasan utama mengapa Moskow bersedia menanggung seluruh kerumitan teknis yang datang bersama satu kokpit ekstra.
Rumit, dan tidak murah. Penambahan kompartemen kokpit kedua memaksa rancang ulang bagian punggung badan pesawat (fuselage spine) agar sedikit lebih cembung, guna mengompensasi volume bahan bakar internal yang tersedot. Ruang bom internal dipastikan tidak menyusut demi mempertahankan kemampuan siluman. Kalau ukurannya dipangkas, stealth-nya rontok. Bobot kosong pun naik, memaksa integrasi mesin lebih bertenaga agar rasio dorong-ke-berat tidak kedodoran. Pada J-20S, China memilih mesin WS-15 sebagai solusinya. Rusia, di jalur sendiri, masih mengandalkan mesin interim sembari menatap integrasi penuh mesin Saturn Izdeliye 30 pada varian mendatang.
Di luar aspek teknis, Su-57D juga membuka kalkulasi baru di pasar ekspor. India, yang sejak lama mengamati program Su-57 dengan ketertarikan setengah-setengah pasca mundur dari program FGFA bersama, disebut-sebut sebagai salah satu pihak yang akan melirik varian baru ini. Varian berkursi ganda memang secara historis lebih menarik bagi pembeli asing, kalau data historis ini bisa dipercaya, karena memudahkan pelatihan pilot sekaligus memperluas cakupan misi yang bisa dijual ke parlemen masing-masing negara.
Su-57 versi kursi tunggal baru resmi masuk kedinasan operasional Angkatan Udara Rusia pada 2020. Enam tahun berselang, platform itu berevolusi lagi. Bukan dengan menambah senjata baru atau mesin lebih kencang, tapi dengan menambah satu manusia di dalamnya. Di era drone dan perang data, ternyata itulah yang paling dicari.