KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Strategy Tambah Bitcoin Rp752 Miliar usai Sempat I...

Finansial

Strategy Tambah Bitcoin Rp752 Miliar usai Sempat Isyaratkan Penjualan

Michael Saylor kembali membuktikan konsistensinya: sesaat setelah pasar ramai memperdebatkan kemungkinan penjualan Bitcoin oleh Strategy, perusahaan justru menambah kepemilikan BTC senilai Rp752 miliar.

JUST IN: Strategy is projected to be the world's LARGEST institutional # Bitcoin holder by next week 🤯 Here are some things you should know: 🔸 Bitcoin Treasuries projects Michael Saylor's Strategy wi

Pasar sempat dibikin waswas. Michael Saylor, bos Strategy yang selama ini dikenal sebagai salah satu pembeli Bitcoin paling vokal di dunia institusional, tiba-tiba melontarkan pernyataan yang tidak biasa: penjualan Bitcoin bisa dipertimbangkan jika diperlukan untuk mengoptimalkan struktur utang perusahaan. Kalimat itu cukup untuk membakar spekulasi di kalangan pelaku pasar kripto.

Belum selesai pasar berspekulasi, Strategy sudah kembali masuk. Perusahaan mengumumkan pembelian Bitcoin senilai Rp752 miliar, seolah menjawab sendiri pertanyaan yang sempat menggantung itu.

Konteks di balik kekhawatiran itu sesungguhnya cukup serius. Strategy dikabarkan tengah mempertimbangkan buyback obligasi konversi senilai USD 1,5 miliar atau sekitar Rp26,4 triliun yang jatuh tempo pada 2029, dengan nilai pembelian kembali sekitar USD 1,38 miliar. Langkah ini dibaca sebagai sinyal bahwa perusahaan mulai serius memitigasi beban utangnya, dan skenario penjualan sebagian Bitcoin sebagai sumber pendanaan pun mulai diperhitungkan analis.

Strategi akumulasi BTC yang dijalankan Saylor selama bertahun-tahun memang mengangkat Strategy ke posisi pemegang Bitcoin institusional terbesar di dunia. Posisi yang membanggakan, tapi ibarat pedang bermata dua: semakin besar porsi aset yang terkonsentrasi di satu instrumen volatil, semakin besar pula eksposur terhadap guncangan pasar. Cukup untuk bikin investor lama tidak nyenyak tidur.

Analis mencatat beberapa skenario yang mungkin berkembang menjelang 2029. Kalau harga Bitcoin terus menguat, pemegang obligasi kemungkinan besar akan memilih konversi ke saham, sehingga utang perusahaan berkurang tanpa perlu pembayaran tunai. Terdengar rapi di atas kertas. Tapi konversi itu berarti dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama, dan dampak penuhnya belum tentu sudah diperhitungkan pasar.

Harga BTC sendiri sedang jalan di tempat, bergerak di kisaran USD 78 ribu setelah reli sebelumnya kehabisan tenaga. Yang agak janggal, justru data adopsi ritel di Amerika Serikat menunjukkan lonjakan di periode yang sama. Kombinasi harga stagnan dan minat ritel yang memanas biasanya jadi bahan bakar pergerakan berikutnya, meski ke arah mana belum terbaca jelas.

Pembelian terbaru Strategy, jujur saja, terasa seperti pesan yang dikirim Saylor langsung ke pasar: akumulasi tetap jalan, apapun yang sempat terucap. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah Strategy akan jual Bitcoin. Pertanyaan sesungguhnya: seberapa lama model keuangan ini bisa terus berjalan sebelum tekanan utang benar-benar memaksa tangan manajemen?