SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Strategy Makin Terjepit: STRC Anjlok, Kritik Menga...

Finansial

Strategy Makin Terjepit: STRC Anjlok, Kritik Mengalir dari Segala Penjuru

Saham preferen STRC milik Strategy kini diperdagangkan 27% di bawah nilai pari, sementara kewajiban dividen tahunan menembus US$1,2 miliar. Brad Garlinghouse hingga Peter Schiff ramai-ramai mempertanyakan ketahanan model leverage Bitcoin ala Saylor.

CEO Ripple Kritik Strategi Bitcoin Saylor Sambil Tetap Optimistis pada BTC

Cadangan kas Strategy cukup untuk membayar dividen sekitar 10 bulan saja. Lampu merah, bukan sekadar sinyal waspada.

Saham preferen perpetual STRC diperdagangkan di kisaran US$73, sekitar 27% di bawah nilai pari US$100. Diskon ini bukan anomali sesaat. Sepanjang 2026, harga STRC terus tergerus seiring pasar menghitung ulang beban keuangan perusahaan yang kian menggunung. Kewajiban dividen tahunan kini menembus US$1,2 miliar, hampir empat kali lipat dari posisi awal tahun ini, setelah Strategy agresif menerbitkan saham preferen berdividen tinggi untuk mendanai akumulasi Bitcoin.

Jendela perlindungan Strategy menyempit drastis dari lebih dari tujuh tahun menjadi sekitar 14 bulan. Firma riset CryptoQuant mematok angka yang lebih spesifik: Strategy perlu membangun cadangan kas hingga US$2,8 miliar, setara kebutuhan dividen 24 bulan, agar kepercayaan pasar terhadap STRC bisa pulih.

Harga Bitcoin tidak membantu. BTC kini diperdagangkan di kisaran US$58.000, di bawah harga rata-rata perolehan Strategy yang berada di US$75.000 per koin. Dengan kepemilikan lebih dari 843.000 BTC, perusahaan menanggung kerugian belum terealisasi sekitar US$14 miliar. Saham biasa MSTR pun amblas lebih dari 84% dari level tertingginya di November 2024.

Pada akhir Mei, Strategy menjual 32 Bitcoin untuk membayar dividen STRC. Bukan angka besar, tapi ini pertama kalinya Saylor melepas BTC demi menunaikan kewajiban keuangan. Sinyal itu tidak mudah diabaikan.

"Mereka punya masalah besar. Mereka tidak dapat memuaskan semua bagian dari struktur modal mereka," kata Jeff Dorman, Chief Investment Officer Arca. Sean Farrell dari Fundstrat sependapat. "Mereka berada dalam kesulitan, dan mereka harus menjual sesuatu," ujar Farrell, yang juga mengingatkan bahwa setiap opsi yang tersedia, baik penerbitan saham baru maupun penjualan BTC, sama-sama membawa risiko reputasi dan hukum.

30 Juni. Tanggal itu kini jadi titik fokus pasar. Hari itu sekaligus tanggal ex-dividen STRC dan momen Strategy menyesuaikan tingkat dividen bulanan. Pembayaran semi-bulanan pertama sebesar US$0,48 per saham dijadwalkan cair 15 Juli, kurang dari 0,7% terhadap harga pasar saat ini. Katalis sesungguhnya justru ada pada keputusan apakah Strategy akan menaikkan tingkat dividen dari 11,5% yang sudah dipertahankan empat bulan berturut-turut, di saat imbal hasil efektif di pasar sudah merayap ke sekitar 15%.

Kritik dari luar pun mengeras. Brad Garlinghouse, CEO Ripple, menyebut model pinjam-untuk-beli ala Saylor sebagai "tuduhan keras" dan menegaskan rekayasa finansial tidak menciptakan nilai jangka panjang. "Nilai jangka panjang dari setiap aset digital hanya akan didorong oleh utility," tegas Garlinghouse. Ia mengaku tetap bullish terhadap BTC sebagai aset, tapi bukan terhadap struktur keuangan di atasnya.

Garlinghouse memang punya kepentingan bicara. Ripple secara konsisten memposisikan XRP sebagai infrastruktur pembayaran lintas negara dengan utility nyata, bukan aset yang ditimbun dengan utang.

Yang lebih keras: Peter Schiff. Ia menuduh Saylor memasarkan STRC sebagai instrumen berlabel risiko rendah kepada investor konservatif, termasuk pensiunan, dengan klaim volatilitas telah dihilangkan. Kenyataannya, STRC sempat jatuh lebih dari 5% dalam sehari dan merosot lebih dari 17% dari harga beli banyak investor bulan sebelumnya. "Ini adalah pelanggaran SEC yang jelas," klaim Schiff. Ia bahkan menyebut Saylor berpotensi dikenang sebagai penjahat yang lebih besar dari Sam Bankman-Fried, mengingat paparan Strategy terhadap Bitcoin jauh lebih besar dan lebih langsung ketimbang FTX.

Saylor menepis semua itu. Ia berargumen risiko likuidasi baru akan muncul kalau Bitcoin menyentuh US$8.000, dan berjanji melakukan refinancing utang daripada menjual BTC. Klaim yang masih perlu dibuktikan, apalagi Strategy kini juga menghadapi investigasi sekuritas oleh Rosen Law Firm terkait dugaan pernyataan menyesatkan di lima sekuritas yang saling terkait.

Analis kripto Michael van de Poppe menambahkan dimensi lain. Pelemahan STRC agaknya sudah ikut menyeret sentimen Bitcoin secara lebih luas, bukan semata karena fundamentalnya. "Jangan jual bitcoin Anda, itulah seluruh desain koreksi ini," ujar van de Poppe, sambil mencatat sejumlah altcoin justru menunjukkan kinerja lebih baik terhadap BTC dalam beberapa sesi terakhir.

Bagi pemegang STRC, jalan menuju pemulihan ke nilai pari kemungkinan lebih bergantung pada arah harga Bitcoin daripada pada penyesuaian dividen yang bersifat inkremental. Ironis memang: aset yang menjadi tulang punggung seluruh konstruksi keuangan ini sedang tidak berpihak pada mereka.